08 April 2021, 20:49 WIB

Produsen Benih Sayuran Kembangkan Varietas Khusus Hidroponik


Mediaindonesia.com | Ekonomi

PT East West Seed Indonesia (Ewindo) tengah mengembangkan sejumlah varietas sayuran yang dirancang khusus untuk budi daya hidroponik. Selain unggul karena tahan terhadap penyakit, daya tumbuh dan produktivitasnya tinggi. Varietas tersebut juga akan memiliki bobot lebih besar sehingga lebih menguntungkan bagi petani hidroponik.

"Penjualan produk hidroponik dengan ditimbang, sehingga semakin berat produk yang dihasilkan akan semakin menguntungkan petani. Didukung pengalaman para ahli pemulia tanaman dan teknologi mutakhir di antaranya molecular marker, kami optimistis dapat mempercepat penemuan benih unggul khusus untuk hidroponik," tutur Managing Director Ewindo, Glenn Pardede, dalam keterangan resmi, Kamis (8/4). Produsen benih sayuran Cap Panah Merah itu hingga saat ini memproduksi lebih dari 150 varietas benih sayuran yang memberikan hasil panen melimpah. Benih yang dibudidayakan untuk hidroponik sejauh ini masih berupa sayuran daun seperti kangkung, bayam, pakcoy, kailan, sawi, dan lettuce.

Salah satu yang sangat digemari para pegiat hidroponik yaitu pakcoy NAULI F1. Sayur ini dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah hingga tinggi, memiliki batang yang besar dan kokoh, serta warna menarik. Fenomena bercocok tanam secara hidroponik juga dirasakan dari penjualan secara daring yang mengalami kenaikan sampai dengan 10 kali lipat. Data ini sejalan dengan aktivitas pertanian perkotaan yang mengalami kenaikan sampai dengan lima kali lipat.

Menurut Glenn, meskipun budi daya hidroponik tengah menjamur di kota-kota besar, kebanyakan masih sebatas hobi, tapi memiliki prospek yang menguntungkan. Apalagi saat ini lahan pertanian semakin terbatas. Demikian juga dengan jumlah petani. "Mayoritas masih untuk hobi mengisi waktu di rumah selama beraktivitas dari rumah akibat pandemi covid-19. Padahal kalau ditekuni hidroponik juga bisa memberikan keuntungan," kata Glenn.

Di sisi lain, tingkat konsumsi sayuran di Indonesia masih rendah yaitu 33 kilogram per kapita per tahun. Padahal sejumlah negara lain, di antaranya Tiongkok, konsumsi sayuran warganya sudah mencapai 234 kilogram per kapita per tahun. Berdasarkan angka itu, diperkirakan Indonesia dalam 10 tahun mendatang akan meningkatkan konsumsi sayuran menjadi 64 kilogram per kapita per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan sayuran dalam jangka panjang selain dipasok dari petani juga didapat dari hidroponiker (pelaku hidroponik).

Glenn mengatakan untuk belajar bertanam sayuran hidroponik saat ini tersedia banyak tutorial melalui kanal-kanal Youtube. Persoalannya yang menjadi kendala selama ini yaitu pemasaran. Apabila pemasarannya jelas dipastikan hidroponik tidak lagi sekadar hobi, tetapi sebagai penghasilan. Berdasarkan perhitungan internal, usaha hidroponik yang berkelanjutan yakni dengan minimum 5.000 lubang senilai investasi Rp50 juta akan memberikan penghasilan bersih Rp5 juta per bulan atau mencapai break even point (BEP) selama 10 bulan.

"Di beberapa tempat petani hidroponik berada di bawah komunitas dan koperasi sehingga memudahkan untuk penjualan saat panen. Produksi dari hidroponik ini dipasarkan sebagai produk sayuran branded di pasar-pasar modern," ungkap Glenn.

Sedangkan Ketua Perhimpunan Hidroponik Indonesia (Perhindo) Jatmiko Pambudi mengatakan wadah yang baru terbentuk pada 26 Maret 2021 ditujukan untuk memahami teknologi. Artinya, memberikan nutrisi yang baik dan pengairan yang cukup untuk memberikan hasil yang optimal menjadi hal penting dalam bertani hidroponik. Hal ini karena banyak dari petani hidroponik tidak memiliki latar belakang bercocok tanam. Sebagian besar karena otodidak dari tutorial yang banyak terdapat di media sosial atau dari buku-buku.

Dengan 300 anggota, jelas Jatmiko,  Perhindo yang sudah ada di 12 provinsi ingin melakukan sinergi dengan pemangku kepentingan di berbagai bidang seperti akademisi, pelaku pasar, pelaku bisnis, dan pemerintah. Untuk memulai usaha hidroponik tidak bisa dipatok investasi minimal dan luas lahan. Semua bergantung pada produk yang ingin ditanam serta harga komoditas di daerah itu.

"Kalau ingin bertanam kangkung di Jakarta dengan di Kalimantan misalnya tidak bisa disamakan. Harga komoditas tersebut di kedua daerah itu berbeda termasuk luasan lahannya," ujar dia. Ia mengatakan persepsi masyarakat selama ini budi daya hidroponik hanya bertanam sayuran daun. Padahal banyak potensi yang dapat digarap seperti melon, semangka, timun, dan labu. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT