08 April 2021, 14:41 WIB

Industri Perbankan Punya Risiko Besar Terdisrupsi Teknologi


Despian Nurhidayat | Ekonomi

INDUSTRI perbankan memiliki risiko besar untuk didisrupsi oleh inovasi khususnya bidang teknologi. Hal ini ditandai dengan maraknya transaksi menggunakan e-channel dan mulai ditinggalkannya transaksi tradisional.

"Saya kasih contoh dari data BCA terjadi perubahan bertransaksi dari 2019 ke 2020. Transaksi di cabang turun 25% yoy. Transaksi ATM turun 8% yoy. Internet banking itu naiknya 41% yoy dan mobile banking naiknya sampai 56% yoy," ungkap  Ketua Umum Ikatan Bankir Indonesia (IBI) Haryanto T Budiman dalam forum Human Capital Summit 2021 secara virtual, Kamis (8/4).

Lebih lanjut, Haryanto menambahkan pada masa pandemi covid-19, perubahan transaksi sangat luar biasa. Nasabah menjadi malas pergi ke cabang dan memegang uang tunai, sehingga banyak transaksi melalui mobile channel.

"Jadi tantangan untuk para bankir untuk kondisi kenormalan baru, teknologi ini akan digunakan secara masif. Saat ini akan beralih pada digitalisasi. New working model juga harus pakai teknologi," kata Haryanto.

Selain itu, dia menambahkan bahwa bankir harus bisa berkompetisi dan berkolaborasi antarindustri dan antarnegara. "Jadi kalau dulu kita bilang fintech musuh tapi sekarang kita bisa bekerja sama dengan fintech. Memperbaiki produk dan service perbankan dengan melihat behavior dari nasabah. Kita harus menghasilkan produk yang better, faster, dan cheaper," tuturnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT