01 April 2021, 08:55 WIB

Sambut Kostratani, Gubernur NTT Harapkan Ada Transfer Knowledge


mediaindonesia.com |

SEBAGAI upaya peningkatan kemampuan dan kompetensi SDM pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) semakin giat melakukan penguatan Kostratani di 1.465 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Termasuk juga penguatan Kostratani di Nusa Tenggara Timur.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) di setiap kesempatan selalu menggelorakan semangat penyuluhan untuk penguatan 1.465 BPP Kostratani.

“Gerakan pembangunan pertanian seperti pola Piramida Terbalik. Petani dan penyuluh di posisi teratas, BUMN dan pihak swasta di tengah dan terbawah adalah pemerintah, yang menggambarkan kontribusi dan porsinya paling sedikit,” kata Mentan Syahrul.

Baca Juga: Kementan Gelontorkan 195 Ton Cabai Normalkan Harga di Ibu Kota

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mendukung penuh target Mentan dan memastikan komitmen jajarannya pada 2021 melakukan penguatan pada 1.465 BPP Kostratani.

“Harus dipahami, pembangunan pertanian bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat maupun daerah, tetapi tanggung jawab petani dan masyarakat termasuk BUMN dan swasta, karena itu disebut sebagai gerakan,” ungkap Dedi Nursyamsi saat audiensi dengan Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat di Nusa Tenggara Timur, Rabu (31/3/2021).  

Sementara itu, Gubernur Viktor Laiskodat menjelaskan bahwa kunjungan kerja yang dilakukan pemerintah pusat dalam hal ini dari Kementan diharapkan dapat membantu NTT keluar dari situasi sulit saat ini.

Baca Juga: Warga Kupang Diminta Rayakan Jumat Agung Dengan Tenang

“Kami berterima kasih kepada Kementerian Pertanian yang begitu peduli untuk membangun pertanian di NTT. Seperti yang kita ketahui NTT merupakan Provinsi termiskin dan mata pencaharian sebagian besar masyarakat NTT ada di bidang pertanian dan peternakan yaitu sebesar 60% dari jumlah masyarakat yang ada. Oleh karena itu kehadiran Kementan melalui strategi-strategi pembangunan akan sangat mendorong dan mendukung NTT untuk keluar dari situasi sulit,” ungkap Viktor.

Ditambahkannya, dengan seringnya pemerintah pusat mendatangi langsung ke lapangan tentunya harus dimanfaatkan sebaik mungkin, salah satunya dengan transfer knowledge.

“Apa yang telah dilakukan di Sumba Tengah dan Belu dengan mempergunakan bendungan-bendungan yang telah dikerjakan oleh pemerintah pusat akan sangat membantu dan juga kami akan terus berlatih. Selain itu dengan kehadiran pemerintah pusat dapat menjadi kesempatan untuk transfer knowledge agar kita dapat belajar bagaimana untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Sehingga ke depannya kami dapat membuat dan melakukan program yang sama untuk peningkatan kualitas hidup para petani NTT,” katanya.

Terkait Food Estate (lumbung pangan) sebagai program yang dirancang untuk upaya menjaga keberlangsungan ketahanan pangan, Viktor menjelaskan bahwa sudah ada 15.000 hektar lahan di Sumba Tengah yang dijadikan sebagai kawasan Food Estate dan 12.000 hektar di Belu yang diharapkan kawasan tersebut dapat menjadi tempat pembelajaran bagi para petani. 

Selain itu, untuk bendungan yang sudah ada akan dikelola dan dibuat pipa agar pemanfaatan air menjadi lebih optimal.

Ditambahkannya untuk mewujudkan pertanian kearah yang lebih maju maka elemen yang perlu diperhatikan adalah SDM Pertanian itu sendiri. Sehingga petani milenial yang ada sekarang  diharapkan dapat memaksimalkan kemampuannya dalam menggarap Hortikultura. 

Selain itu untuk mendukung peningkatan SDM Pertanian, Kementan telah memprogramkan magang bagi petani milenial yang dalam waktu dekat ini adalah magang ke Jepang. 

Menanggapi hal tersebut, Pemda telah menyiapkan 100 orang petani untuk magang di Jepang agar dapat meningkatkan kapasitas sebagai petani milenial. (RO/OL-10)

BERITA TERKAIT