23 March 2021, 17:21 WIB

Menkeu: Kebijakan AS Berdampak Besar pada Pasar Keuangan Global


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

KEBIJAKAN pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Bank Sentral AS (The Fed) dalam menangani pandemi covid-19 dan memulihkan ekonomi berdampak pada pasar keuangan global. Tak terkecuali Indonesia, yang pada Februari 2021 mengalami aliran modal keluar (capital outflow) akibat dinamika tersebut.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memandang kebijakan yang dibuat Negeri Paman Sam membuat pasar keuangan Indonesia turut tertekan. "Ini karena policy yang diambil oleh pemerintah AS dan kemudian komunikasi policy dari The Fed. Di Indonesia terlihat dari sisi capital outflow pada Februari," ungkap Ani, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers virtual, Selasa (23/3).

Mayoritas negara berkembang mengalami tekanan di pasar keuangan, akibat kebijakan dan komunikasi yang dikeluarkan pemerintah dan Bank Sentral di AS. Hal itu tecermin dari depresiasi sejumlah mata uang negara berkembang.

Baca juga: Fitch Pertahankan Peringkat RI, Ini Kata Sri Mulyani

Indonesia misalnya, nilai tukar rupiah mengalami sedikit pelemahan menjadi Rp14.130 per dolar AS pada 17 Maret 2021. Padahal, di awal Maret 2021, rupiah tampak perkasa dengan capaian Rp14.000 per dolar AS.

"Terjadi tren depresiasi pada rupiah seiring dengan tekanan di capital market secara global. Ini akibat AS melakukan ekspansi fiskal yang luar biasa. Di sisi lain, The Fed meski tetap firm mengatakan suku bunga akan tetap dijaga, namun reaksi dari market tidak selalu mudah untuk mempercayainya," papar Ani.

"Kita lihat, volatilitas Februari-Maret yang berasal dari komunikasi dan policy dari AS. Pertama, adanya fiskal defisit dengan tambahan US$1,9 triliun, itu menyebabkan defisit AS mencapai 13,7% dari GDP. Sebelumnya di 2020, AS melakukan countercyclical dengan 15,6% dari GDP defisitnya. AS jelas akan memengaruhi sebagai ekonomi terbesar di dunia," imbuh Bendahara Negara.

Baca juga: UEA Komitmen Berinvestasi Rp144 Triliun ke LPI Indonesia

Kondisi itu turut diikuti dengan spekulasi mengenai tekanan inflasi. Serta, menyebabkan imbal hasil dari 10 years United States Treassury (UST) yang mengalami kenaikan. Investor global melihat indikator ekspektasi inflasi yang diperkirakan naik tersebut. Alhasil, berdampak pada obligasi pemerintah Indonesia dan negara berkembang lain.

"Semua negara yield-nya mengalami kenaikan. Brasil bahkan mulai Januari hingga 19 Maret, kenaikan yield mencapai 29%. Filipina bahkan melonjak 48% dari 1,53% ke 2,27%, Rusia melonjak 29%. Indonesia  juga mengalami kenaikan. Namun kalau dilihat, kenaikan 11% itu relatif lebih kecil dibandingkan kenaikan dari bonds negara-negara emerging," tukasnya.(OL-11)

BERITA TERKAIT