21 March 2021, 20:25 WIB

Pelemahan Rupiah Diharapkan Tertahan dari Naiknya Harga Komoditas


Fetry Wuryasti | Ekonomi

Nilai tukar rupiah di pasar spot pada Jumat (19/3) ditutup menguat tipis 0,02 persen ke level Rp 14.408 per dolar AS. Namun, dalam sepekan, rupiah di pasar spot mencatatkan pelemahan sebesar 0,16 persen.

Sementara di kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup pada level Rp 14.476 per dolar AS atau melemah 0,44%. Dalam sepekan terakhir, rupiah sudah mengalami pelemahan sebesar 0,73%.

"Rupiah diperkirakan akan masih mengalami pelemahan, karena bulan Maret dan April adalah periode pembagian dividen emiten. Sehingga permintaan untuk dolar AS akan meningkat," kata Ketua Kelompok Kajian Makroekonomi dan Ekonomi Politik LPEM FEB UI Jahen Fachrul Rezki, saat dihubungi, Minggu (21/3).

Selain itu, bulan April, memasuki memasuki puasa dan diikuti lebaran, diperkirakan akan membuat permintaan impor meningkat. "Akan tetapi kabar baiknya adalah harga komoditas turut meningkat, sehingga diharapkan bisa meningkatkan nilai ekspor dan tetap menjaga nilai rupiah," kata Jahen.

Selain itu, tertekannya nilai tukar rupiah utamanya disebabkan oleh naiknya yield US Treasury karena proyeksi perbaikan ekonomi dan ekspektasi akan inflasi di AS. Dampaknya bagi emerging markets (EM) yaitu investor cenderung menarik dana yang dimiliki dari EM dan pindah ke obligasi di AS. "Tapi saat ini mungkin dampaknya tidak separah tahun 2013. Sebab Bank Sentral di beberapa negara seperti Turki dan Brasil merespon dengan meningkatkan suku bunga," kata Jahen.

Akan tetapi, trend ke depan masih menunjukkan akan tetap terjadi pelemahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kekhawatiran baru bahwa The Fed akan memberi toleransi pada laju inflasi yang lebih cepat, memicu aksi jual pada asset berisiko tinggi seperti saham dan komoditas.

Investor melihat adanya ketidakpastian mengenai dampak dari kerangka kerja The Fed yang baru dimana inflasi sengaja dibiarkan melebihi (overshoot) target 2% untuk beberapa waktu.

Yield nominal obligasi tenor panjang pemerintah AS kembali menunjukkan taringnya. Untuk tenor 10 tahun yield sudah mencapai 1,7% sementara untuk tenor 30 tahun yield hampir mendekati 2,5%.

Yield naik ketika inflasi menguat karena investor yakin bank sentral akan mengerem kebijakan longgarnya dan mengurangi pembelian aset. Imbal hasil yang tinggi bisa memicu lonjakan beban emiten obligasi yang pada gilirannya juga menekan kinerja dan harga saham mereka di bursa.

Kenaikan atau turunnya yield kembali akan tergantung kondisi makro AS dan juga proses vaksinansi serta keberhasilan program stimulus ekonomi Presiden AS Joe Biden. "Tapi analis dan pasar prediksi naiknya yield bisa terjadi tahun ini ketika ekonomi AS semakin membaik dan bisa jadi lebih cepat," kata Jahen.

Untuk IHSG, dia melihat investor juga masih akan wait and see dalam berinvestasi, tergantung kondisi makroekonomi global dan juga laporan kinerja perusahaan pada beberapa waktu ke depan. "Tapi saya rasa ada kecenderungan positif, karena komitmen dari The Fed sendiri yang cenderung dovish (menahan naiknya suku bunga)," kata Jahen. (OL-12)

 

BERITA TERKAIT