17 March 2021, 13:00 WIB

Ini Musababnya Rupiah Terus Melemah


Fetry Wuryasti | Ekonomi

SETELAH  mengalami periode apresiasi sejak November tahun lalu, nilai mata uang rupiah mulai terdepresiasi kembali menjadi Rp 14.400 pada minggu ke empat Februari dari sekitar Rp 14.000 pada minggu sebelumnya.

Nilai mata uang rupiah Rabu (17/3) berada di level 14.447 per dolar AS merujuk pada RTI, dan 14.459 pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).

“Kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terutama didorong oleh kondisi pasar AS yang tidak terduga. Pasar cukup terkejut pada akhir Februari karena tingkat inflasi yang lebih baik dari perkiraan di AS mencerminkan prospek pemulihan yang optimis setelah pandemi Covid-19,” kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI Teuku Riefky, Rabu (17/3).

Kondisi tersebut mendorong investor memindahkan asetnya dari obligasi ke aset lain yang tidak terlalu rentan terhadap inflasi dan biaya pinjaman utang.

Akibatnya, rata-rata imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik ke level sebelum pandemi di 1,6% pada pertengahan Maret.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS mendorong dolar AS ke level yang lebih tinggi dan menahan minat investor pada pasar negara berkembang karena semakin menipisnya perbedaan imbal hasil.

“Alhasil, obligasi berdenominasi mata uang lokal di pasar negara berkembang mengalami volatilitas tertinggi di minggu ini di tahun 2021,” kata Riefky.

Terlepas dari sentimen positif ekonomi Indonesia, yang ditunjukkan oleh peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan perbaikan kasus harian Covid-19, dampak negatif justru didorong oleh arus modal keluar yang masif.

Tren arus modal keluar yang terjadi di Indonesia tercermin dari imbal hasil obligasi pemerintah, dimana imbal hasil obligasi tenor 10 tahun meningkat menjadi 6,6% pada akhir Februari.

Berlanjutnya tekanan yang sangat besar pada minggu pertama bulan Maret mendorong angka ini lebih jauh ke level 6,8% pada pertengahan Maret.

Sejalan dengan peningkatan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun, nilai credit default swap (CDS) untuk obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga melonjak dari hanya 67 pada pertengahan Februari menjadi 79 pada pertengahan Maret, mencerminkan meningkatnya persepsi risiko di kalangan investor dalam satu bulan terakhir.

Ketidakpastian pasar modal domestik yang dipicu oleh tekanan eksternal menahan tren akumulasi cadangan devisa yang tinggi sepanjang tahun ini.

Cadangan devisa BI pada Februari hanya naik US$800 juta menjadi US$138,8 miliar. Meski demikian, cadangan devisa cukup untuk melengkapi BI dengan likuiditas yang terjaga untuk mendukung stabilisasi rupiah dalam menghadapi tekanan eksternal yang akan datang.

Stabilitas rupiah harus menjadi prioritas utama perhatian BI di bulan ini dan beberapa bulan mendatang karena rupiah telah menjadi salah satu mata uang yang paling terpukul selama terjadinya ketidakpastian pasar AS.

“Laju depresiasi rupiah yang tercatat sebesar 3,70% (ytd) merupakan yang tertinggi di antara negara-negara berkembang lainnya di Asia,” kata Riefky.

Tekanan eksternal dari pasar AS kemungkinan besar akan bertahan hingga akhir minggu ini dimana pasar menunggu pertemuan The Fed.

Inflasi AS yang lebih tinggi bulan lalu telah membuat investor percaya bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya untuk meredam inflasi.

Namun, The Fed telah mencoba menenangkan pasar dengan memberi isyarat bahwa tidak akan ada kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

"Sebagai dampaknya, pasar saat ini bergerak dengan sangat hati-hati sebelum pertemuan The Fed," kata Riefky. (E-1)

BERITA TERKAIT