10 March 2021, 14:45 WIB

Imbal Hasil SBN masih Menarik Mata Investor


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

IMBAL hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) masih menarik di mata investor meski ada kenaikan yield US Treasury. Di lain sisi, ada tekanan imbas kenaikan yield obligasi Negeri Paman Sam.

"Yield SBN sebetulnya masih cukup menarik dibanding negara peer, tapi kekhawatiran investor terkait peningkatan inflasi di AS membuat asing melakukan sale off sehingga mendorong penurunan pembiayaan asing, tidak saja di Indonesia, tapi juga di beberapa emerging market lain," jelas Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan Risiko Kementerian Keuangan Deni Ridwan dalam diskusi daring, Rabu (10/3).

Kenaikan yield US Treasury terjadi sejak Januari 2021 dan diprediksi terus melonjak pascakebijakan stimulus sebesar US$1,9 trilun digelontorkan untuk menangani pandemi dan pemulihan ekonomi AS.

Deni bilang imbas nyata yang dirasakan Indonesia yaitu melemahnya nilai tukar rupiah dan menurunnya kepemilikan asing pada SBN. "SBN tenor 10 baik lokal maupun global kembali mengalami tekanan semenjak awal Januari 2021," imbuhnya.

"Ini juga terlihat dari rupiah yang mengalami tekanan dalam dua minggu terakhir. CDS meningkat menunjukkan risiko persepsi yang meningkat di mata investor," sambung Deni.

Kendati demikian, SBN masih tetap menarik dan diminati investor. Itu terbukti dari penawaran pada pelelangan yang dilakukan sejak awal 2021.

Tercatat, penawaran yang masuk dalam lelang awal tahun ini sebesar Rp76 triliun dan dimenangkan sekitar Rp34 triliun. Angka itu lebih tinggi ketimbang rata-rata penawaran tahun lalu yang sebesar Rp75 triliun dan dimenangkan hanya Rp22 triliun.

"Ini tantangan buat kami. Kondisi volatile karena US Treasury dan target penerbitan SBN meningkat dibandingkan tahun sebelumnya," pungkas Deni. (OL-14)

BERITA TERKAIT