01 March 2021, 16:20 WIB

Dihantam Pandemi, Sektor Penerbangan Harus Tetap Jalan


M. Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

SEKTOR penerbangan yang terdampak pandemi covid-19 harus tetap berjalan. Pasalnya, sektor itu menjadi salah satu moda transportasi paling efektif untuk masyarakat dan tata kelola pemerintahan.

Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) Chappy Hakim menilai dunia penerbangan Indonesia tergolong istimewa. Sebab, didukung dengan kondisi geografis Indonesia yang mencakup wilayah kepulauan dan pegunungan. 

Artinya, perhubungan udara sangat dibutuhkan untuk eksistensi sebuah bangsa. Dalam hal ini, jejaring perhubungan udara untuk administrasi, logistik, hingga tata kelola pemerintahan.

Baca juga: Akibat Pandemi, Garuda Putus Kontrak 700 Karyawan

"Kita bisa bayangkan apabila jejaring perhubungan udara terhenti, eksistensi negara ini terancam. Mau rugi atau bagaimana, (sektor penerbangan) harus tetap jalan," tutur Chappy dalam diskusi virtual, Senin (1/3).

"Di Amerika Serikat, stimulus sekian miliar dolar pun tidak akan cukup menyelamatkan dunia penerbangan," imbuhnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) per Januari 2021 mencatat penurunan jumlah penumpang hingga 36,19% (mtm) atau hanya 2,34 juta orang. Secara tahunan, jumlah penumpang pesawat turun hingga 62,88%.

Baca juga: Sektor Transportasi masih Turun pada Januari 2021

Menurut Chappy, selama krisis kesehatan akibat pandemi covid-19 belum teratasi, sektor penerbangan sulit menentukan kebijakan mekanisme. Sebab, protokol kesehatan yang diterapkan untuk orang bepergian, akan menentukan jumlah penumpang transportasi udara.

"Selama penumpang tidak bisa diyakinkan bahwa saat penerbangan tidak tertular (covid-19), maka selama itu pula tidak akan terbang. Sehingga, market akan tutup," pungkasnya.

Sejak pandemi covid-19, protokol kesehatan bertentangan dengan strategi marketing dari maskapai penerbangan. Secara umum, bisnis penerbangan memiliki keuntungan yang tipis.(OL-11)

 

 

BERITA TERKAIT