23 February 2021, 14:57 WIB

Uang Beredar Simpanan Berjangka Melambat Seiring Suku Bunga Turun


Fetry Wuryasti | Ekonomi

BANK Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) yaitu M1 serta uang kuasi seperti tabungan, simpanan berjangka dalam rupiah, valas, giro dalam valuta asing, dan surat berharga tumbuh melambat pada Januari 2021. Posisi M2 pada Januari 2021 sebesar Rp6.761,0 trilun atau tumbuh 11,8% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan Desember 2020 sebesar 12,4% (yoy).

Hal itu disebabkan perlambatan uang kuasi yang memilik pangsa 73,6% terhadap M2 dengan nilai sebesar Rp4.977,4 triliun. "Uang kuasi melambat dari 10,5% (yoy) pada Desember 2020 menjadi 9,7% (yoy), terutama pada instrumen simpanan berjangka, baik dalam rupiah maupun valas seiring dengan tren penurunan suku bunga simpanan," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, Selasa (23/2).

Demikian juga pertumbuhan surat berharga selain saham tercatat masih melanjutkan koreksi, dari -10,6% (yoy) pada Desember 2020 menjadi -20,4% (yoy), seiring penurunan kewajiban akseptasi milik korporasi nonkeuangan dalam rupiah maupun valas.

Di sisi lain, M1 atau uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral (giro berdenominasi rupiah) pada Januari 2021 masih melanjutkan tren peningkatan. M1 tumbuh 18,7% (yoy) atau sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 18,5% (yoy) didorong oleh peningkatan giro rupiah dari 20,3% (yoy) pada Desember 2020 menjadi 20,9% (yoy).

Sejalan dengan hal tersebut, dana float (saldo) uang elektronik yang diterbitkan bank tumbuh positif (6,8% yoy), berbalik arah dibandingkan bulan sebelumnya -8,2% (yoy). Dana float pada Januari 2021 tercatat Rp2,5 triliun, dengan pangsa 0,14% terhadap M1.

Di sisi lain, uang kartal di masyarakat (di luar perbankan dan BI) pada Januari 2021 tercatat sebesar Rp712,5 triliun atau tumbuh 15,6% (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya 16,1%, (yoy). "Perlambatan peredaran kartal seiring dengan kembali normalnya kebutuhan uang tunai masyarakat pascalibur panjang Natal dan Tahun Baru," kata Erwin.

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan M2 pada Januari 2021 dipengaruhi perlambatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Hal ini tercermin dari perlambatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat, dari 66,9% (yoy) menjadi 54,8% (yoy) pada Januari 2021. Perlambatan disebabkan oleh peningkatan kewajiban sistem moneter kepada pemerintah pusat berupa simpanan dalam rupiah dan valuta asing.

Penyaluran kredit pada Januari 2021 masih kontraksi sebesar -2,1% (yoy) atau sedikit lebih baik dari Desember 2020 sebesar -2,7%(yoy). Perbaikan ini ditopang oleh perbaikan kredit produktif.

Di sisi lain, terjadi peningkatan aktiva luar negeri bersih pada Januari 2021 sebesar 14,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan Desember 2020 sebesar 13,6% (yoy), yang disebabkan oleh peningkatan tagihan sistem moneter kepada bukan penduduk seiring dengan peningkatan cadangan devisa. (OL-14)

BERITA TERKAIT