21 February 2021, 01:55 WIB

Relaksasi DP 0%, Tak Didukung dengan Daya Beli Masyarakat


M. Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

DIREKTUR Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah, menilai kebijakan pemerintah terkait relaksasi Loan to Value (LTV) dan diskon Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) kendaraan tidak terlalu mendorong konsumsi masyarakat.

"Meski akan mendorong tumbuhnya konsumsi tapi saya kira tidak akan sangat besar," kata Piter, Sabtu (20/2).

Hal itu dikarenakan yang membutuhkan dan ingin membeli rumah atau kendaraan umumnya adalah masyarakat dengan ekonomi menengah bawah. Tetapi di tengah pandemi saat ini justru mereka yang paling terdampak pandemi. "Mereka kehilangan pekerjaan dan income. Jadi sulit untuk mereka memanfaatkan turunnya LTV demikian juga dengan kendaraan," ujarnya.

Menurutnya yang akan memanfaatkan relaksasi tersebut adalah masyarakat yang masih memiliki pekerjaan dan masih memiliki pendapatan.

"Jadi tidak semua masyarakat yang membutuhkan rumah dan mobil akan memanfaatkan turunnya LTV ataau memanfaatkan relaksasi tersebut. Hanya sebagian yang masih punya daya beli. Tapi Itu sudah cukup meningkatkan konsumsi.," ungkap Piter.

Hal senada diungkapkan Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti. Menurutnya relaksasi tersebut tidak akan meningkat signifikan karena daya beli konsumen sedang lemah akibat pandemi.

"Kemungkinan yang akan memanfaatkan yang masih memiliki pekerjaan atau mereka yang PHK kemudian menjadi driver online. Akan nekat mengambil kredit mobil DP 0% dan cicilan tinggi" ucapnya.

"Sementara kelompok menengah dan atas, keinginan beli mobil relatif rendah. Selain uang sedang sulit, lebih baik pengeluaran dikendalikan, juga karena tidak ada kebutuhan mendesak," tambah Eshter. (OL-15)

BERITA TERKAIT