18 February 2021, 12:30 WIB

Distribusi Vaksin Tidak Serta Mempercepat Pemulihan Ekonomi


Fetry Wuryasti | Ekonomi

SAAT ini perekonomian Amerika masih jauh dari kata pulih, dan membutuhkan beberapa kemajuan substansial yang lebih lanjut untuk dicapai oleh The Fed.

Perekonomian yang masih jauh dari kata pulih inilah yang merupakan sebuah gambaran pesan yang dovish. The Fed juga mengatakan bahwa pasar tenaga kerja saat ini masih sangat jauh dari level yang diharapkan. Sebab saat ini hampir 10 juta pekerjaan masih di bawah level yang berlaku sebelum pandemi wabah virus corona dimulai.

Baca juga: Holding BUMN Ultra Mikro, Wong Cilik Dapat Pinjaman Lebih Murah

"Prospek vaksinasi yang mulai diberikan kepada masyarakat di Amerika terus menambah spekulasi investor, terkait dengan kapan The Fed akan melakukan pengurangan pembelian obligasi, yang saat ini masih berjalan dengan nominal USD 120 miliar per bulan," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis (18/2).

Beberapa Presiden Fed daerah juga mengatakan bahwa ada kemungkinan program pembelian tersebut akan dipangkas di akhir tahun 2021, jika ternyata perekonomian berjalan lebih baik dari yang diharapkan.

Pembicaraan mengenai Taper Tantrum terus dibahas sejak kejadian 2013 silam, ketika Bank Sentral berpikir bahwa program pengurangan pembelian obligasi akan mampu mengguncang pasar dan memukul perekonomian.

Khususnya negara berkembang yang saat ini tengah berada dalam fase pemulihan dan berusaha kembali bangkit. Ketidaksiapan inilah yang membuat kekhawatiran, bahwa fase pemulihan belum mencapai tahap yang sempurna, tapi sudah harus dihadapkan dengan program pengurangan obligasi khususnya bagi negara berkembang seperti Indonesia salah satunya.

Saat ini target dari The Fed adalah lapangan kerja penuh ditambah dengan target inflasi 2%. Masalahnya adalah imbal hasil US Treasury sudah mulai mengalami kenaikkan terlebih dahulu karena adanya ekspektasi dan harapan pemulihan yang pasti akan terjadi.

Tidak hanya itu saja, naiknya imbal hasil memberikan suatu asa bahwa stimulus dari Presiden AS Joe Biden akan keluar pada akhir bulan nanti, ditambah dengan bantuan dari Kongres Demokrat yang akan mengesahkan langkah langkah bantuan fiskal untuk mempercepat fase pemulihan ekonomi.

Para pelaku pasar dan investor sejauh ini menyatakan bahwa prospek program vaksin masih berjalan dengan sangat baik, stimulus yang siap untuk diberikan meskipun belum tahu itu kapan, memberikan sebuah proyeksi bahwa perekonomian jangka menengah pun ikut membaik.

Meskipun secara target jangka panjang, perekonomian masih jauh dari kata pulih karena masih diiringi dengan tingginya tingkat ketidakpastian.

Para Gubernur Bank Sentral memberikan perhatian lebih kepada beberapa variable bebas yang dapat meningkatkan inflasi dalam kurun beberapa bulan mendatang karena vaksinasi akan terus mendorong meningkatkan kekebalan dalam populasi, sehingga

mendorong perekonomian untuk dibuka kembali yang tentu saja akan menyebabkan inflasi.

"Inflasi yang timbul nanti akan ada dua, sementara atau selamanya. Ini akan menjadi perhatian pelaku pasar, karena masih ada variable yang tidak pasti terkait dengan pemulihan. Oleh sebab itu kami melihat bahwa prosesnya pemulihan ekonomi dari distribusi masih sangat panjang. Keamanan dan kenyamanan masih akan menjadi pilihan masyarakat untuk mulai konsumsi dan mendorong daya beli," kata Nico. (OL-6)
 

BERITA TERKAIT