18 February 2021, 10:48 WIB

IHSG Bergerak Terbatas Jelang Hasil RDG


Fetry Wuryasti | Ekonomi

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (18/2) dibuka pada level 6.230,36 (+0,04%) dari penutupan kemarin 6.227,73.

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak terbatas dan ditradingkan pada level 6.168 – 6.283," Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis (18/2).

Baca juga: Jika Vaksinasi Lambat, Kredit Hanya Tumbuh 4%

Menjelang hasil RDG BI pada hari Kamis (18/2), pelaku pasar cukup mencermati kebijakan tersebut. Hal ini tergambarkan pada pergerakan IHSG yang cukup terbatas dalam satu pekan terakhir dimana pelaku pasar membutuhkan trigger guna memperjelas arah dari IHSG.

Berdasarkan konsensus yang dihimpun oleh Bloomberg, Bank Indonesia diproyeksikan akan menurunkan suku bunga sebesar 25 bps dari 3,75% menjadi 3,5%.

Sejalan dengan penurunan yang diproyeksikan tersebut, suku bunga pinjaman dan simpanan juga diproyeksikan mengalami penurunan sebesar 25 bps.

Jika mengacu pada inflasi bulan Januari yang berada di 1,55% memang terdapat ruang yang cukup bagi suku bunga untuk dapat turun sebesar 25 bps.

Inflasi inti yang turun cukup signifikan dari level tertingginya sejak Maret 2020, memberikan fokus yang besar terhadap pemerintah dan juga bank sentral untuk mengembalikan daya beli masyarakat yang hilang sebagai dampak dari pandemi.

Terlebih bulan Februari diproyeksikan adanya perlambatan pada inflasi, hal tersebut seiringan dengan pengetatan aktivitas yang masih berlangsung.

Berdasarkan konsensus, inflasi bulan Februari diproyeksikan berada pada 1,4% atau lebih rendah dibandingkan bulan Januari 2021.

Tentu hal ini memberikan harapan bagi pelaku pasar untuk Bank Indonesia dapat menurunkan suku bunga acuan saat ini dimana peran dari kebijakan moneter diharapkan dapat menopang pertumbuhan dari riil sektor.

Fokus Bank Indonesia dalam membantu sektor bisnis untuk berekspansi juga ikut mengalami tekanan yang cukup besar. Indeks keyakinan bisnis masih belum pulih.

Hal tersebut memberikan tekanan pada perlambatan kredit sepanjang 2020. Kinerja kredit bulan Desember mengalami perlambatan sebesar -2,4% YoY. Tentu ini menjadi pertanyaan besar bagi pelaku pasar dimana dukungan dari Bank Sentral terkait penurunan suku bunga belum dapat memberikan kepercayaan para pelaku usaha untuk dapat berekspansi.

Pertanyaannya apakah dengan adanya penurunan tingkat suku bunga “lanjutan” merupakan langkah yang efektif di tengah situasi dan kondisi seperti saat ini.

"Ruang penurunan suku bunga BI memang masih terbuka, dan juga harapan untuk pemangkasan tingkat suku bunga. Namun kalau tidak efektif terhadap penurunan tingkat suku bunga dasar kredit, menurut kami akan sia-sia," kata Nico.

Pelaku pasar serta investor lain berharap bahwa tingkat suku bunga dapat turun. Namun saat ini itu merupakan prioritas kedua. Prioritas pertama justru menantikan surat dari Bank Indonesia terkait kebijakan transparansi net interest margin perbankan.

"Hal ini menjadi cikal bakal dasar bagi perbankan untuk memberikan tingkat suku bunga kreditnya," kata Nico.

Bank Indonesia tentu tahu betul bahwa bisnis perbankan di Indonesia merupakan yang termanis seantero dunia. Tapi di tengah situasi dan kondisi fase pemulihan, kebangkitan dari pandemi, semua pihak tidak hanya memikirkan keuntungan semata.

Perbankan merupakan salah satu sektor sentral untuk melakukan stimulus kredit yang mampu membantu Indonesia untuk dapat pulih, khususnya bagi sektor UMKM yang memberikan kontribusi terbesar.

"Oleh sebab itu, kami berharap Bank Indonesia dapat segera mengeluarkan surat tersebut, dan tidak ada salahnya, bank sesekali mengeluarkan tingkat suku bunga kredit rendah bukan hanya untuk bank itu sendiri, tapi juga untuk pemulihan ekonomi Indonesia," kata Nico.

Rasio kredit bermasalah (NPL) tetap menjadi perhatian, risiko tetap tidak bisa dihilangkan. Namun setiap resiko yang ada harus dikelola agar tetap terjaga. (OL-6)
 

BERITA TERKAIT