04 February 2021, 08:54 WIB

OVO-Bareksa Hadirkan Integrasi E-money dan E-investment Pertama


IHFA FIRDAUSYA |

PERTUMBUHAN uang elektronik di Indonesia terbilang pesat. Presiden Direktur OVO dan Co-Founder/CEO Bareksa, Karaniya Dharmasaputra, menyebut dalam rentang 2016-2019, uang elektronik bertumbuh hampir 600%. Dari angka itu, 78% di antaranya dikontribusikan oleh uang elektronik non-bank.

Di sisi lain, berdasarkan peraturan Bank Indonesia, pengguna uang elektronik tidak boleh mendapatkan bunga dari uang yang disimpannya di platform tersebut. Padahal, kata Karaniya, jumlah dana yang disimpan dan mengendap di platform uang elektronik, seperti OVO, semakin besar.

Karena itu, OVO bekerja sama dengan Bareksa sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) meluncurkan fitur ‘Invest’ di aplikasi OVO. Integrasi e-money dan e-investment ini pun menjadi terobosan yang pertama kali terjadi di Indonesia.

“Dengan adanya fitur invest ini, kita menawarkan ke pengguna OVO agar dananya diinvestasikan di reksa dana pasar uang. Dalam hal ini reksa dana pasar uangnya dikelola oleh Manulife Aset Manajemen,” ujar Karaniya saat diwawancarai Media Indonesia secara virtual, kemarin.

Dia mencontohkan kesuksesan integrasi e- money dan e-investment di Tiongkok yang dilakukan Alipay dan Yu’e Bao. Kolaborasi tersebut diakui mencatatkan sukses besar dalam mengenalkan investasi reksa dana secara masif terutama di kalangan milenial.

Karaniya mengatakan bahwa pertumbuhan dunia investasi ritel di Tiongkok sangat pesat. Hal ini salah satunya didorong oleh kehadiran teknologi finansial (fintech). Karena itu, pihaknya ingin mereplikasi kisah sukses Tiongkok melalui peluncuran produk reksa dana pasar uang Manulife OVO Bareksa Likuid (MOBLI).

“Apalagi landskap dunia digital dan keuangan Indonesia (dengan Tiongkok) kurang lebih sama. Di sini integrasinya terjadi antara OVO sebagai platform uang elektronik, dengan Bareksa seba-gai perusahaan e-investasi,” jelasnya.

Reksa dana pasar uang MOBLI menghadirkan beberapa keunggulan yang sangat bermanfaat untuk para investor, khususnya para generasi milenial yang menginginkan kecepatan, kemudahan, dan keamanan dalam berinvestasi. Antara lain investor bisa mulai berinvestasi reksa dana mulai dari Rp10.000 dengan OVO Cash.
 
“Ini era di mana inovasi ini merupakan bagian dari upaya OVO dan Bareksa untuk melakukan demokratisasi pasar investasi kita. Jadi siapa saja bisa. Yang pemula juga bisa, karena Rp10 ribu kok. Ini bukan cuma buat orang kaya,” ungkap Karaniya.

“Dengan demikian, kalau biasanya top up ke OVO cash misal Rp1 juta, sebelumnya kan gak dapat bunga, sekarang bisa dengan sangat mudah langsung dibelikan reksa dana pasar uang. Karena dibelikan reksa dana pasar uang, potensi imbal hasil sekitar 4-4,5% setahun. Itu net, tidak dipotong apa-apa lagi,” jelasnya.

Potensi milenial
Adapun keunggulan lainnya ialah proses pencairan yang instan memungkinkan investor dapat mencairkan investasi mereka langsung ke saldo OVO Cash untuk segera digunakan bertransaksi saat ada kebutuhan. Berbagai kemudahan ini diharapkan dapat membangun kebiasaan generasi milenial untuk mulai berinvestasi dengan cara yang terjangkau dan nyaman.

Hal itu memperlihatkan potensi milenial dalam hal investasi. Menurut Karaniya, mengutip data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pertumbuhan segmen ritel e-investment yang pesat di Indonesia didominasi oleh kaum milenial.

“Kalau tidak salah sudah sekitar 55% investor di pasar modal adalah milenial. Jadi milenial sekarang sedang jadi tren bahwa mereka mulai ingin berinvestasi. Yang mana ini tren yang sangat bagus,” tuturnya.

Di sisi lain, MOBLI juga cocok bagi investor profesional yang ingin melakukan diversifikasi aset karena memiliki imbal hasil investasi yang menarik dengan tingkat risiko yang relatif rendah. Adapun investor tidak akan dibebankan biaya pembelian maupun pencairan dana investasinya.

Karaniya menjelaskan bahwa reksa dana pasar uang sendiri merupakan reksa dana yang risikonya paling rendah. “Kalau lihat di Bareksa itu garis imbal hasilnya hampir linier, risikonya cuma 0,01%. Karena sebagian besar juga diinvestasikan di deposito, selain obligasi jangka pendek,” ujarnya.

Di samping itu, OVO mengapresiasi terobosan-terobosan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) antara lain dengan mengadopsi teknologi digital untuk melakukan penetrasi pasar reksa dana. Salah satu realisasinya adalah pemberian izin kepada perusa-haan fintech untuk menerbitkan reksa dana yang mana pada 2016 Bareksa menjadi perusahaan fintech pertama yang mendapatkan izin agen penjual efek reksa dana dari OJK.

“Dengan adanya adopsi teknologi finansial ini oleh regulator, kemudian terjadi lompatan yang sangat signifi-kan. Sekarang data terakhir di akhir 2020 jumlah nasabah reksa dana ham-pir 2,8 juta sementara 2016 masih di 250 ribuan,” ungkapnya.

Ke depan, OVO dan Bareksa akan menjajaki kemungkinan kerja sama serupa. Antara lain e-investasi berupa surat berharga negara dan emas. “Fitur-fitur ini juga akan terus dikerjasamakan. Kita sedang mempersiap-kan penjualan surat berharga negara, nanti bisa dibeli di OVO juga. Kemudian nanti emas, dan banyak produk-produk lainnya,” kata Karaniya.

“Nanti reksa dana juga bukan hanya pasar uang konvensional, mudah-mu-dahan nanti akan ada reksa dana pasar uang syariah,” pungkasnya. (S2-25)

BERITA TERKAIT