02 February 2021, 18:23 WIB

Harga Minyak Mentah Indonesia Melambung ke US$53,17 per Barel


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

TIM Harga Minyak Indonesia mengungkapkan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) pada Januari 2021 meningkat US$5,39 dibanding Desember 2020 menjadi US$53,17 per barel. ICP SLC juga dilaporkan naik sebesar US$4,94 per barel dari US$49,47 per barel menjadi US$54,41 per barel.

Kenaikan itu merupakan buntut dari pertemuan negara-negara pengekspor minyak bumi dan sekutu atau OPEC Plus. Mereka menyepakati untuk melanjutkan pemotongan produksi sebesar 7,2 juta barel per hari hingga Maret 2021.

"Dimulainya program vaksinasi covid-19 di sejumlah negara diharapkan dapat menurunkan potensi penyebaran virus dan menggerakkan perekonomian kembali," papar Tim Harga Minyak Indonesia sebagaimana yang dikutip dari situs resmi Direktorat Migas Kementerian ESDM, Selasa (2/2).

Kenaikan harga ICP, ungkap mereka, juga disebabkan komitmen Arab Saudi untuk menambah pemotongan produksi secara sukarela sebesar 1 juta barel di Februari dan Maret 2021 sebagai bagian dari OPEC+ Supply Agreement.

Selain itu, tingkat kepatuhan OPEC Plus terhadap kesepakatan pemotongan produksi pada Januari 2021 mencapai rata-rata 85%, lebih tinggi dibandingkan kepatuhan di Desember 2020 yang mencapai 75%.

OPEC menyampaikan bahwa proyeksi permintaan minyak global pada tahun ini naik 5,9 juta barel per hari menjadi 95,9 juta barel per hari dibandingkan 2020.

Tim Harga Minyak Indonesia juga menguraikan faktor lain yang meningkatkan harga minyak internasional yaitu Badan Energi Internasional atau IEA memperkirakan bahwa permintaan minyak global pada 2021 naik 5,5 juta barel per hari menjadi 96,6 juta barel per hari dibandingkan 2020.

Laporan IEA pada Januari 2021 menyatakan stok minyak mentah AS per Januari 2021 mengalami penurunan sebesar 16,8 juta barel menjadi 476,7 juta barel dibandingkan stok minyak mentah di Desember 2020.

Selain itu, kenaikan harga ICP juga dipengaruhi optimisme pasar atas pelantikan Presiden AS dan harapan agar pemerintahan yang baru di bawah pimpinan Presiden Joe Bidden dapat memberikan tambahan stimulus ekonomi untuk meningkatkan perekonomian negara itu. (OL-14)

BERITA TERKAIT