28 January 2021, 07:10 WIB

BKPM Dorong Investasi Industri Mamin


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

KEPALA Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan pihaknya siap mendorong pertumbuhan investasi pada sektor industri makanan dan minuman (mamin). Itu lantaran laju pertumbuhan foreign direct investment (FDI) industri itu cukup baik meski di tengah pandemi covid-19.

“Salah satu sektor yang investasinya tumbuh baik dari FDI dan PMDN (penanaman  modal dalam negeri) ialah makanan dan minuman. Kami selalu mendukung industri makanan dan minuman,” kata dia dalam Media Group News (MGN) Summit Indonesia 2021 di MetroTV, kemarin.

Bahlil menambahkan, dalam waktu dekat perusahaan asal Swiss, Nestle, akan membangun pabrik keempat di Indonesia. Nilai investasinya disebut mencapai US$200 juta. “Itu mungkin bulan depan mereka sudah mulai groundbreaking pabrik keempat,” imbuhnya.

Namun, Bahlil tak menampik selama ini industri mamin kerap dihadapkan pada persoalan impor bahan baku. Ini bisa jadi penghambat pertumbuhan industri mamin dan menahan laju investasi di sektor industri tersebut.

Oleh karenanya, pemerintah membuat Undang-Undang Nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja. Dalam produk hukum itu, akan dibuat aturan turunan berupa PP yang dapat meniadakan hambatan pada impor bahan baku industri mamin.

“Dengan RPP yang ada, jadi kalau ada kementerian teknis perdagangan tidak mengeluarkan rekomendasi impor, itu kementerian perindustrian bisa cepat. Dengan begitu, kita menjamin suplai bahan baku untuk memastikan industri berjalan itu akan tetap dilakukan,” sambungnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S Lukman menyampaikan masih adanya hambatan sulitnya impor bahan baku. Padahal,  industri mamin dapat berkontribusi lebih pada investasi nasional bila persoalan bahan baku itu dapat diselesaikan. Tercatat, hingga triwulan III 2020, FDI di sektor industri ini meningkat 14%. Secara rerata, aliran modal asing yang masuk ke Indonesia dari sektor ini mencapai Rp60 triliun tiap tahunnya.

“(Capaian) ini perlu kita lanjutkan di 2021, tapi kami perlu dukungan pemerintah. Kesulitan di bahan baku pada sektor makanan dan minuman menghambat investasi dan pengaturan bahan baku ini sangat rumit di Indonesia,” kata Adhi. (Mir/S-3)

BERITA TERKAIT