22 January 2021, 01:10 WIB

BRI: Menumbuhkan Kredit Jadi Tantangan 2021


Fetry Wuryasti | Ekonomi

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyebut upaya menumbuhkan kredit sebagai tantangan pada tahun ini. Secara nasional pada 2020, pertumbuhan kredit minus 2,42% akibat nasabah perorangan, UMKM hingga korporasi, turut terdampak pandemi covid-19.

"Untuk kuartal IV 2020 dan tahun penuh 2020, saya kira BRI menyumbang kontribusi yang tumbuh positif. Tapi, angkanya belum (bisa) saya sampaikan," ujar Direktur Utama BRI Sunardi dalam paparan RUPSLB, Kamis (21/1).

Pada 2021, BRI akan terus memacu kemampuan untuk penyaluran kredit. Terutama dalam membangkitkan kembali UMKM agar berkontribusi ke perekonomian nasional. Perseroan akan menyiapkan infrastruktur, produk dan tetap fokus pada UMKM, khususnya mikro.

Baca juga: Ini Faktor yang Mendorong Pemulihan Ekonomi RI

"Di 2021 kira-kira target pertumbuhan kredit yang dicanangkan BRI sekitar 6%-7%," imbuh Sunarso.

Menanggapi kabar sejak akhir 2020 terkait holding mikro, di mana BRI akan mengakuisisi PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero), Sunarso menyebut hal itu domain pemegang saham, yakni pemerintah.

"Kami adalah pihak yang akan diholdingkan. Sehingga jawabannya adalah kami serahkan ke pemegang saham. Kami akan mengikuti arahan," pungkasnya.

Terkait aksi korporasi, seperti akuisisi, Sunarso mengatakan setiap tahun BRI menyediakan alokasi anggaran untuk corporate action sekitar Rp5 triliun. Pihaknya masih mengkaji aksi korporasi yang cocok untuk menciptakan nilai tambah.

Baca juga: BI: Penguatan Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Berlanjut

Pihaknya telah menyiapkan belanja modal Rp3,5 triliun pada tahun ini untuk mengembangkan bisnis digital. Anak usaha perseroan, yaitu BRI Agro, digunakan sebagai kendaraan bisnis digital.

"Saya kira kami ada ke arah sana. BRI agro menurut saya sizenya cukup agile dan lincah. Sehingga, kalau kami butuh sewaktu-waktu, mengubah bisnis model dan lebih digital. Itu untuk kemungkinan BRI Agro kami ubah bisnis modelnya menjadi bank digital," pungkas Sunarso.

Dengan likuiditas yang masih memadai, Sunarso menilai aksi korporasi right issue belum diperlukan.(OL-11)

BERITA TERKAIT