21 January 2021, 22:22 WIB

Ekspor Sarang Burung Walet Berpotensi Meningkat Tajam


mediaindonesia.com | Ekonomi

KETUA Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Boedi Mranata menyebutkan bahwa ekspor sarang burung walet berpotensi meningkat tajam serta mampu memberi devisa negara yang cukup besar.

Dengan adanya regulasi eksportir terdaftar sarang burung walet (ET-SBW) yang akan dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan untuk ekspor walet ke semua negara diharapkan nilai devisa ekspor tersebut akan meningkat.

Menurut Boedi, saat ini Tiongkok menjadi salah satu importir terbesar sarang burung walet dengan total 262 ton per 2020 dengan harga rata-rata Rp25 juta per kg. Sedangkan untuk ke negara lain karena belum diberlakukan Eksportir Terdaftar, nilai harga ekspor rata-ratanya  lebih rendah, bahkan ada yang hanya Rp632 ribu per kg. 

"Ekspor ke China paling jelas regulasinya dibanding negara lain. Ini kalau digali dengan aturan-aturan yang jelas dan diberlakukan Eksportir Terdaftar, kemungkinan nilai harga sarang burung walet yang tercatat bisa meledak dan devisa kita bisa naik," ujar Boedi, Kamis (21/1).

Boedi menilai, sejak dulu sarang burung walet Indonesia memang sudah menjadi incaran negara-negara lain, khususnya Tiongkok. Terlebih dengan keterbukaan globalisasi sekarang ini menjadikan sarang burung walet sebagai salah satu andalan bagi devisa dari sektor pertanian.

Hal lain yang sangat  penting yaitu jangan sampai kita mengekspor bahan baku walet yang masih kotor seperti yang kita lakukan di masa lalu karena hal ini tidak memberikan nilai tambah dan bisa menyebabkan pengangguran serta menurunkan devisa negara.

"Saya kira dengan evaluasi mana yang mesti diperbaiki dalam ekspor sarang walet serta kita mampu membuat diversifikasi produk nilai tambahnya seperti minuman dalam botol, aneka makanan dari walet, kosmetik, obat-obatan, dan lain-lain, maka jika produk ini diekspor, saya yakin devisanya akan berlipat-lipat," tandasnya. 

Mengenai hal ini, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menilai bahwa potensi ekspor sarang burung walet masih akan terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini dikarenakan sarang burung walet dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan.

"Dari data pada IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan) tercatat bahwa selama masa pandemi covid-19 saja, di 2020 jumlah ekspor sarang burung walet tercatat sebanyak 1.155 ton dengan nilai Rp28,9 triliun," katanya.

Mentan menambahkan, jumlah itu meningkat 2,13% dari pencapaian di 2019 yang hanya sebanyak 1.131 ton atau senilai Rp28,3 triliun. Selain itu, kata dia, sarang burung walet dapat hidup baik dengan ekosistem yang terjaga, mulai dari hutan, laut, dan sungai sebagai penghasil pakan walet alami.

Sementara Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan, Ali Jamil, mengatakan pihaknya telah memiliki laboratorium pengujian yang telah diakui oleh negara mitra dagang. Selain percepatan layanan, pihaknya juga terus melakukan inovasi teknologi perkarantinaan untuk memfasilitasi pertanian diperdagangan internasional.

Menurutnya, partisipasi dan dukungan dinas pertanian, peternak dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan komoditas sarang burung walet sangat diperlukan. Terlebih lagi, setiap negara tujuan memiliki protokol ekspor yang harus dilewati.

"Untuk itu kita harus bersama-sama menjaga serta laporkan jika melalulintaskan unggas khususnya kepada petugas karantina agar sarang burung walet tetap dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi nasional," tutupnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT