16 January 2021, 05:30 WIB

Tangani Pandemi, ULN Pemerintah Tumbuh 2,5%


Despian Nurhidayat | Ekonomi

BANK Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan utang luar negeri (ULN) yang mengalami peningkatan hingga akhir November 2020. ULN meningkat sebesar 0,6%, dari 3,3% pada Oktober 2020 menjadi 3,9% pada November 2020.

Peningkatan itu terutama disebabkan oleh naiknya penarikan neto ULN pemerintah. Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berkontribusi pada peningkatan nilai ULN berdenominasi rupiah.

“Posisi ULN Indonesia pada akhir November 2020 tercatat sebesar US$416,6 miliar, terdiri dari ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar US$206,5 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar US$210,1 miliar,” ungkap Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono lewat keterangan resminya, kemarin.

Utang luar negeri pemerintah pada akhir November 2020 tumbuh 2,5% (yoy) menjadi sebesar US$203,7 miliar, lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan di Oktober 2020 yang sebesar 0,3% (yoy).

Kenaikan itu dipengaruhi oleh kepercayaan investor yang terjaga sehingga mendorong aliran masuk modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta penarikan sebagian komitmen pinjaman luar negeri untuk mendukung penanganan pandemi covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“ULN pemerintah tetap dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas, yang di antaranya mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,8% dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,6%), sektor jasa pendidikan (16,6%), dan sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,8%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (11,2%),” sambung Erwin.

Sementara itu, ULN swasta tercatat tumbuh melambat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Hal itu terlihat dari pertumbuhan ULN swasta pada akhir November 2020 yang tercatat 5,2% (yoy), lebih rendah daripada pertumbuhan di bulan sebelumnya yang sebesar 6,4% (yoy).

Pertumbuhan itu disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK), dari 8,3% (yoy) pada Oktober 2020 menjadi sebesar 7,2% (yoy). Di samping itu, ULN lembaga keuangan mencatat kontraksi 1,4% (yoy).

Secara keseluruhan, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir November 2020 sebesar 39,1%, juga relatif stabil bila dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya yang sebesar 38,8%.

Realisasi pembiayaan

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan realisasi pembiayaan utang sepanjang 2020 mencapai Rp1.226,8 triliun atau tumbuh 180,4% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp437,5 triliun.

Ia menyatakan realisasi yang telah memenuhi 100,5% target dalam Perpres 72/2020 sebesar Rp1.220,5 triliun itu meningkat karena dilakukan dalam rangka penanganan dampak pandemi covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Untuk pembiayaan utang Rp1.226,8 triliun ini mencapai 100,5% dari target Perpres 72/2020,” jelasnya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Rabu (6/1).

Sri Mulyani menjelaskan pembiayaan utang itu disebabkan oleh peningkatan sangat tinggi dari penerbitan SBN neto yang mencapai Rp1.177,2 triliun atau meningkat 163,8% (yoy) dari periode yang sama 2019 sebesar Rp446,3 triliun. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT