13 January 2021, 23:24 WIB

Harga Nikel Terkerek Permintaan Baterai Mobil Listrik


Fetry Wuryasti | Ekonomi

HARGA komoditas besi baja dan nikel mengalami kenaikan harga sering dengan naiknya permintaan dunia untuk menyokong baterai mobil listrik (electric vehicle). Tak dipungkiri kenaikan harga ini mendongkrak saham emiten terkait seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

“Kami memilih PT Aneka Tambang Tbk ANTM dan PT Vale Indonesia Tbk INCO, karena emiten ini penerima manfaat dari kenaikan harga nikel seiring dengan naiknya permintaan dari produksi baja dan baterai EV. Menurut kami kenaikan ANTM dan INCO masih terus berlanjut," kata Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya, dalam paparan virtual, Rabu (13/1).

Tren harga komoditas nikel berada di kisaran level USD 17.665 per metrik ton untuk harga kontrak nikel periode tiga bulan yang aktif ditransaksikan di London Metal Exchange (LME). Kini harga logam dasar komponen stainless steel tersebut berada di level tertingginya sejak hampir satu setengah tahun terakhir.

"Harga Nikel masih mampu menembus USD 20 ribu per metrik ton. Hal ini karena dua faktor, pertama permintaan lebih tinggi dari sektor baja. Sebab aktivitas konstruksi dan manufaktur Tiongkok yang trennya naik. PMI Tiongkok tercatat 60,7 pada Desember dibandingkan 59,8 pada November 2020," kata Hariyanto.

Kedua, Tiongkok sedang dalam ambisius dalam hal membangun One Belt One Road untuk menghubungkan jalur sutera sehingga bisa memasarkan produk negaranya. Ini tentu membutuhkan banyak baja. Tentu ini akan mendorong harga nikel.

"Melihat nikel, sebanyak 63% permintaan berasal dari stainless steel. Yang menarik adalah produksi baterai berkontribusi permintaan sebanyak 7%," kata Hariyanto.

Permintaan ini akan meningkat ke depan, ketika Presiden terpilih AS Joe Biden mengatakan berpihak pada energi ramah lingkungan. AS bergabung dengan Jepang, Uni Eropa untuk komitmen kepada green energy. Salah satu yang diusung dari produksi ramah lingkungan adalah kendaraan listrik. Ini akan berdampak positif ke permintaan kepada nikel untuk jangka menengah.

Baca juga ; Tekan Kerugian Ford Tutup Tiga Pabrik di Brasil

"Tren kenaikan harga nikel, ini akan untuk jangka waktu panjang," kata Hariyanto.

Saham PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) masuk radar (top picks) karena emiten sawit ini akan terdorong kenaikan harga crude palm oil (CPO). La Nina membuat produksi CPO terganggu.

Sedangkan permintaan terutama dari Tiongkok dan India sedang tinggi untuk mengisi persediaan. Sedangkan persediaan CPO Malaysia diprediksi akan tetap rendah setidaknya sampai Februari 2021. Harga CPO Malaysia sempat menyentuh 4.000 ringgit per ton dan menjadi tertinggi sejak 2008.

"Harga CPO akan menguat setidaknya sampai kuartal II 2021. Permintaan kuat dari Tiongkok dan India untuk mengisi persediaan mereka," kata Hariyanto.

Emiten PT United Tractors Tbk (UNTR) juga masuk pilihan karena memperhitungkan dampak positif dari kenaikan harga emas. Harga komoditas akan meningkat karena korelasi terbalik antara indeks dolar yang melemah dan harga komoditas.

Trend mata uang dolar akan melemah karena defisit fiskal AS karena pemerintahan Joe Bosen akan menggelontorkan stimulus yang cukup besar. Hal ini ditambah dengan suku bunga rendah. Tentu akan membuat nilai tukar dolar AS melemah.

"Dari tahun 2002-2008 tren dolar AS turun dari 120 menjadi 70. Ini terjadi ketika harga komoditas reli dengan signifikan. Saat ini juga terjadi hal yang sama. Logikanya adalah komoditas mayoritas diperdagangkan dengan mata uang USD. Sedangkan permintaan-permintaan komoditas banyak dari negara-negara non USD. Jadi trendnya ketika dolar indeks melemah, harga komoditas dalam mata uang lokal negara konsumer seolah murah, sehingga permintaan CPO meningkat," kata Hariyanto. (OL-7)

BERITA TERKAIT