13 January 2021, 23:07 WIB

Permintaan Turun, Realisasi Produksi Listrik 2020 Hanya 80%


Fetry Wuryasti | Ekonomi

DIREKTORAT Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan, konsumsi listrik sepanjang 2020 turun. Hal ini akibat pandemi Covid-19, yang membuat konsumsi listrik industri berkurang jauh.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, realisasi konsumsi listrik per kapita pada 2020 sebesar 1.089 kWh per kapita, atau setara 95 persen dari target 1.142 kWh per kapita.

"Konsumsi listrik rumah tangga memang naik, tetapi di industri dan bisnis turun drastis. Maka secara resultan konsumsi per kapita tidak sesuai dengan target," kata Rida dalam paparan pers virtual, Rabu (13/1).

Seiring dengan menurunnya permintaan, realisasi produksi listrik sepanjang tahun lalu berada di bawah target, yakni hanya mencapai 272,4 TWh atau setara 80 persen dari target 339,8 TWh.

"Karena ada perlambatan aktivitas," kata Rida.

Baca juga : Mendag Ingin Kebutuhan Haji Disuplai UMKM Lokal

Untuk menggenjot kembali konsumsi, pemerintah dalam jangka menengah berencana untuk menciptakan permintaan baru, dengan dengan mendorong penggunaan mobil listrik dan kompor induksi.

Sedangkan pemulihan dari sektor bisnis dan industri dapat menjadi solusi jangka pendek untuk mengerek konsumsi listrik.

Pengadaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) disebut sebagai salah satu upaya pemerintah menarik minat masyarakat menggunakan mobil listrik.

Kemudian, untuk jangka panjang pemerintah berencana mengekspor listrik dari pasokan yang berlebih ke negara tetangga.

Rida menjelaskan, saat ini beberapa negara di Asia Tenggara sudah melakukan ekspor dan impor listrik untuk memaksimalkan produksi atau memenuhi kebutuhan listriknya.

"Misal Singapura membeli listrik dari Laos, ke utara lewat Thailand, lewat Malaysia, baru ke Singapura, itu kan jauh. Kenapa tidak beli dari Indonesia. Itu juga dijajaki," kata Rida.

Dampak pandemi Covid-19 juga membuat investasi di sektor ketenagalistrikan di 2020 hanya terealisasi USD 7,04 miliar.

Rida menjelaskan, pada awalnya target investasi sektor listrik sebesar USD 11,95 miliar pada 2020. Namun, pandemi Covid-19 membuat banyak proyek pembangunan pembangkit dan transmisi mundur penyelesaiannya.

"Pembangkit mundur, transmisi dan jaringan juga. Maka uang yang harusnya buat investasi ini turun. Dari target USD 11,95 miliar, realisasinya USD 7,04 miliar atau sekitar 59 persen," kata Rida.

Harapannya pemulihan ekonomi pada tahun ini bisa dimulai. Dengan ekonomi yang membaik maka diharapkan investasi listrik bisa kembali. ESDM menargetkan investasi bisa sama seperti target di 2020.

Di sisi lain, ESDM juga tengah membahas Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2021—2030. Berdasarkan pembahasan, ada kemungkinan pengurangan kapasitas pembangkit listrik yang dibangun dalam 10 tahun ke depan seiring dampak pandemi Covid-19.

Rida mengatakan, sejak akhir Desember 2020, pihaknya sudah disodori konsep draf RUPTL 2021—2030 oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

"Kami diskusikan dan klarifikasi. Kami juga akan laporkan untuk ketiga kalinya ke Menteri ESDM besok. RUPTL ini belum selesai, tapi menuju ke arah selesai,” kata Rida.

Nanti setelah pembahasan dengan Menteri ESDM selesai, maka draf RUPTL tersebut akan dikembalikan kepada PLN untuk dilakukan perbaikan sesuai arahan Menteri ESDM.

Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak tahun lalu memang mempengaruhi proyek-proyek sektor ketenagalistrikan di dalam RUPTL, seperti bergesernya pergeseran target commercial date operation (COD) atau relokasi proyek.

Baca juga : Bertemu Luhut, Menlu Tiongkok Janji Investasi di Danau Toba

Pemerintah pun mencatat, ada sekitar 15,5 gigawatt (GW) selisih pengurangan kapasitas pembangkit listrik yang dibangun berdasarkan RUPTL 2021—2030 bila dibandingkan dengan RUPTL periode sebelumnya.

"Selisih turunnya sekitar 15,5 GW dari RUPTL sebelumnya. Ini sedang kami evaluasi karena ada bagian dari program 35 GW,” ujar Rida.

Dengan adanya penurunan kapasitas pembangkit listrik yang dibangun, otomatis akan mempengaruhi pula proyeksi pembangunan jaringan transmisi hingga gardu induk pada RUPTL.

Pemerintah juga akan lebih moderat dalam memproyeksikan pertumbuhan listrik, pada RUPTL periode 2021—2030 akibat adanya dampak pandemi Covid-19.

Pemerintah kini menargetkan pertumbuhan listrik sekitar 4,9% selama 10 tahun mendatang. “RUPTL lama cukup agresif sekitar 6,4%, kini berubah jadi 4,9%. Ini berdampak pada tingkat konsumsi dan produksi listrik yang berkurang. Hasilnya, pembangkit yang dibutuhkan juga tidak banyak,” kata Rida. (OL-7)

BERITA TERKAIT