05 January 2021, 00:35 WIB

Menkeu: Investor SUN Didominasi Perempuan


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, utang yang diperoleh untuk mendukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) didapat dari kalangan perempuan. Itu dibuktikan dengan jumlah perempuan yang berinvestasi dalam Surat Utang Negara (SUN).

"Perempuan di Indonesia menunjukkan banyak sekali bahwa mereka memiliki potensi. Sebagai menteri keuangan saya mengatakan, mereka (perempuan) itu investor paling besar dalam surat utang negara (SUN)," imbuhnya saat menjadi pembicara dalam Peringatan Hari Ibu 2020 bertajuk Perempuan Berdaya Indonesia Maju, Refleksi Akhir Tahun 2020 Menuju 2021: Quo Vadis Perempuan Indonesia secara virtual, Senin (4/1).

"Jadi kalau saya bilang APBN turun, penerimaan turun dan belanja naik dan saya harus melakukan utang, maka saya utang ke siapa? Saya utang ke ibu-ibu," sambungnya.

Jumlah investor perempuan dalam pembelian ORI017 mencapai 55,87% dan laki-laki 44,13%. Dari penjualan ORI017 yang dilakukan pada 2020, negara mendapatkan dana segar sebesar Rp18,34 triliun, Rp9,12 triliun diantaranya berasal dari investor perempuan.

Demikan halnya dengan pembelian ORI018. Jumlah investor perempuan menyentuh angka 57,82%, lebih banyak dari laki-laki yang hanya 42,18% dari total investor. Dalam penjualan SUN ini pemerintah mendapatkan dana sebesar Rp12,97 triliun dan Rp6,73 triliun diantaranya dibeli oleh investor perempuan.

"Jadi perempuan itu mampu dan mereka mengerti bagaimana menempatkan uang di tempat instrumen investasi yang baik. Meski untuk di bidang bursa masih lebih rendah. Namun dari sisi membeli SBN, mereka lah kreditor saya," jelas Sri Mulyani.

Baca juga: Menkeu: Anggaran PEN 2021 Bisa Capai Rp403,9 Triliun

Lebih lanjut, menurut data Index Global Gender Gap, peranan perempuan di sisi ekonomi nasional sedianya terbilang baik, yakni di level 68. Posisi itu lebih tinggi ketimbang indeks kumulatif yang bertengger di angka 85.

Hanya peranan perempuan di bidang pendidikan, kesehatan dan politik masih tergolong rendah. Misal, indeks kesehatan hanya berada di level 79 dan politik di angka 82.

Sedangkan kesetaraan jender di tingkat ASEAN, Indonesia berada diurutan ke-6 dari 10 negara. "Salah satu yang mungkin perlu untuk kita lihat, indeks pembangunan manusia kita, kalau kita bagi antara laki dan perempuan, perempuan lebih rendah. Itu berarti kualitas perempuan dihitiung dari pendidikan, kesehatan, itu masih mengalami situasi yang lebih buruk dari laki-laki. Partisipasi perempuan di ekonomi juga stagnan," tutur Sri Mulyani.

Dia menambahkan, saat ini Indonesia memiliki menteri perempuan di bidang tenaga kerja. Hal itu diharapkan dapat memacu kesetaraan jender di Tanah Air di sektor ketenagakerjaan.

"Karena selama bertahun-tahun kita hanya di posisi 55. Belum lagi kalau dari sisi upah, untuk pekerjaan yang sama, perempuan dibayar lebih rendah dari laki-laki," pungkasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT