08 December 2020, 21:54 WIB

Medco Power Eksplorasi Pembangunan Energi Bersih


Fetry Wuryasti | Ekonomi

ANAK usaha Medco Energi International Tbk (MEDC) yaitu Medco Power Indonesia sedang bersiap untuk menghadapi transisi energi di masa depan. Dunia pun sedang giat membangun energi bersih untuk bumi yang lebih baik.

Penggunaan listrik di masa depan pun akan meningkat. Konsumsi gas pun akan menjadi transisi dari oil dan gas menjadi energi baru terbarukan (EBT). Selanjutnya energi pun akan disimpan dalam battery storage.

Direktur utama Medco Power Indonesia Eka Satria mengatakan sejak didirikan pada 2004, perusahaan dirancang untuk usaha bisnis menghadapi transisi energi berikutnya. Mereka saat ini telah menginvestasikan bisnis untuk energi bersih, terbarukan dan energi transisi dalam beberapa proyek.

"Listrik adalah bentuk energi ke depan. Dalam listrik itu sendiri energi bersih, baru terbarukan menjadi pilar utama yang harus dijalankan," kata Eka dalam konferensi pers virtual, Selasa (8/12).

Empat bisnis utama Medco Power yaitu gas to power atau LNG to power untuk menciptakan energi bersih, kemudian energi geothermal, lalu energi baru terbarukan (hydro, PV solar dan angin) dan O&M (operasi dan manajemen).

Proyek energi bersih yang kini sedang digarap Medco Power antara lain Geothermal Sarulla di Sumatera Utara (330 megawatt), yang merupakan kontrak tunggal terbesar di dunia untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

Kemudian Ijen Geothermal (berkolaborasi dengan Ormat Technologies) di Jawa Timur (2x55 megawatt) yang kini sedang dalam tahap eksplorasi, dan ditargetkan akan commercial operation date (COD) pada 2024. Lalu Geothermal Bonjol Pasaman Sumatera Barat (potensi 60 megawatt listrik) yang saat ini sedang dalam tahap pre-assessment.

"Kami tetap mencari aset-aset baru geothermal untuk dikembangkan. Potensi geothermal di Indonesia sebesar 27 giga watt. Karena juga bergerak di bidang Exploration Production (EP) dengan keahlian drilling dan juga ekplorasi, saya pikir geothermal menjadi salah satu pilar kami untuk energi bersih. Kami percaya mengenai potensi renewable energy dan berminat fokus ke sana," kata Eka.

Untuk PV Solar, potensinya adalah 203 gigawatt. Potensi energi terbarukan di Indonesia dia yakini begitu besar, untuk PV Solar sebesar 203 gigawatt, geothermal 27 gigawatt, dan tenaga angin potensinya 60 gigawatt dan hydro 94,5 giga watt.

Kebutuhan listrik Indonesia sebesar 60-70 gigawatt. Sehingga sebenarnya kebutuhan listrik Indonesia sebenarnya bisa didapatkan dari energi baru terbarukan. Pemerintah Indonesia juga menargetkan pada 2025 sebanyak 23% listrik terpenuhi dari energi baru terbarukan

Maka Medco Power, kata Eka, berusaha mencoba menjadi pioneer di bidang PV Solar. Mereka saat ini sedang mengembangkan PV Solar di Sumbawa sebesar 25 megawatt, untuk mengakhiri listrik pertambangan. Kemudian Bali PV Solar 2x25 megawatt.

Bisnis listrik, kata Eka, merupakan bisnis energi ke depan. Pertumbuhan listrik di Indonesia salah satu yang tertinggi, dengan lebih dari 40-50% market Asia Tenggara. Pertumbuhan listrik di Indonesia 7-8% per tahun dalam 10 sampai 12 tahun terakhir.

"Ini dapat dilihat dari produksi listrik kami dengan kapasitas 56 megawatt di 2004,  sampai 2019 hasil kombinasi dari Independen Power Producer (IPP) yaitu dari listrik yang kami generate dan dari O&M telah mencapai lebih dari 3.700 megawatt," kata Eka.

Untuk lebih mendukung pertumbuhan energi berkelanjutan, Medco Power jbekerja sama strategis dengan perusahaan integrasi listrik terbesar kedua di Jepang yaitu Kansai Electric yang memiliki kapasitas 33 gigawatt. Kansai merupakan salah satu pemain di industri LNG gas to power, dan renewable.

"Kerja sama ini diharapkan bisa membuka peluang sektor tenaga listrik yang handal dengan tarif kompetitif di Indonesia. Tentu energi bersih yang mendukung target pemerintah Indonesia dan PLN," kata Eka. (E-3)

BERITA TERKAIT