08 December 2020, 14:52 WIB

Pandemi Covid-19 Buat Penurunan Kebutuhan Energi Hingga 16 Persen


M Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

HASIL kajian Pertamina Energy Institute menunjukkan pandemi covid-19 menyebabkan penurunan kebutuhan energi sebesar 16% di tahun 2020 dan dapat menurun sebesar 3% dalam jangka panjang.

Vice President Pertamina Energy Institute Hery Haerudin mengatakan pemulihan energi diasumsikan paling cepat dilakukan pada 2022.

"Energi terbarukan menjadi energi primer dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi dengan porsi mencapai 29% di skenario market driven (MD) dan 47% di skenario green transition (GT) pada 2050," kata Hery saat webinar Energizing The Energy Transition, Selasa (8/12).

Baca juga: Kebijakan di Sektor Energi Terbarukan Bisa Ciptakan Lapangan Kerja

Selain itu, Hery menyebut ke depannya energi terbarukan akan menjadi pilihan primer masyarakat. Diprediksi pada 2030, pemanfaatan minyak dan batu bara 12-33% sehingga penurunan emisi sesuai dengan Nationally Determined Contribution (NDC).

"Dalam transisi energi pemanfaatan gas diprediksi meningkat dengan porsi relatif stabil. Selain itu penggunaan batu bara dan minyak mengalami penurunan," ucapnya.

"Penurunan ini sudah cukup untuk penurunan emisi sesuai standar Indonesia pada 2030 mendatang. Meski demikian memerlukan dukungan lainnya seperti bertumbuhnya penggunaan motor listrik, pengurangan rumah kaca, dan pemanfaatan gas alam," pungkasnya.

Untuk mencapai penurunan emisi sesuai skenario diperlukan Energi Baru Terbarukan (EBT) paling sedikit 16% pada 2030 yang didukung dengan disrupsi energi lainnya pada 2030.(OL-5)

BERITA TERKAIT