30 November 2020, 05:25 WIB

Kemenperin Proyeksikan Industri Tumbuh 3,95%


Ant/E-2 | Ekonomi

KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) memproyeksi industri pengolahan nonmigas bakal tumbuh 3,95% pada 2021 dengan asumsi pandemi covid-19 telah dapat dikendalikan dan vaksin tersedia secara bertahap di masyarakat.

“Ini skenario yang optimistis se­iring dengan berjalannya pemulihan ekonomi nasional yang dilakukan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Eko SA Cahyanto di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas bakal terus berlanjut hingga triwulan IV 2020 seiring dengan peningkatan eks­por dan purchasing manager’s index (PMI) manufaktur Indonesia yang meningkat sejak Oktober 2020.

Meski demikian, pertumbuhannya masih akan terkontraksi sekitar 2,22%. “Capaian tersebut mengalami perbaikan dari angka sebelumnya,” ujar Eko.

Adapun subsektor yang mendukung perbaikan kinerja manufaktur nasional saat ini antara lain industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, industri logam dasar, serta industri makanan.

“Untuk tahun 2021, kami optimistis seluruh subsektor industri pengolahan nonmigas sudah membaik sehingga mampu mendorong pertumbuhan secara keseluruhan yang lebih tinggi lagi,” tutur Eko.

Hal senada disampaikan ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri. Ia memprediksi hampir semua sektor industri pengolahan nonmigas akan mengalami pemulihan pada 2021.

“Hampir semua bisa tumbuh lebih tinggi, tapi yang penting adalah industri farmasi, baik untuk manusia dan hewan. Sehingga kita nanti ongkosnya turun, peternakan kita bagus, unggas kita juga bagus karena ketergan­tungannya makin turun,” paparnya.

Industri makanan dan minuman, lanjut dia, juga termasuk sektor yang tetap tumbuh positif di tengah pandemi covid-19 karena produk dari industri tersebut merupakan barang konsumsi yang tetap dibutuhkan masyarakat.

“Selanjutnya, yakni industri otomotif, yang memang pada dasarnya sudah kuat dan tinggal menunggu waktu untuk pulih,” kata Faisal. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT