30 November 2020, 04:35 WIB

Bunga Tinggi, Peminjam juga Tinggi


Gana Buana | Ekonomi

KEHADIRAN platform jasa financial technology (fintech) semakin memudahkan masyarakat dalam melakukan berbagai aktivitas keuangan. Dalam catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Oktober 2020 akumulasi penyaluran pinjaman secara nasional yang disalurkan jasa fintech mencapai Rp137,66 triliun. Dari jumlah tersebut, dana pinjaman yang disalurkan ke sektor produktif sebesar 34,97% dan sisanya disalurkan untuk kebutuhan konsumsi.

“Saat ini secara rata-rata pinjaman (yang disalurkan kepada konsumen) oleh jasa fintech masih di bawah Rp3 juta per orang,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Nonbank OJK, Riswinandi, dalam forum diskusi di Ciawi, Bogor, Sabtu (28/11).

Melihat perkembangan tingginya penya­luran dana fintech tersebut boleh dikata semakin banyak warga masyarakat tertarik memanfaatkan jasa pinjaman online untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari walaupun perusahaan fintech mengutip bunga pinjaman yang tergolong tinggi dari konsumen.

Menurut OJK, jasa fintech memungut bunga rerata sebesar 0,8% per hari. Apabila dihitung dalam jangka waktu sebulan, bunga pinjaman bisa mencapai 24% dan selama 90 hari (3 bulan) menjadi 72%. “Bunga pinjaman fintech rata-rata 0,8% per hari dan tenornya (masa waktu pengembalian) juga pendek, yakni 90 hari,” ujar Riswinandi.

Penetapan bunga pinjaman fintech tinggi, lanjut Riswinandi, disebabkan besarnya permintaan bunga yang dipatok pihak yang memberikan pinjaman (lender). “Mereka harus menanggung risiko mengingat fintech memberikan pinjaman tanpa meminta jamin­an apa-apa dari konsumen.”

Riswinandi menambahkan, dari sisi kualitas pinjaman yang disalurkan selama ini, tingkat pengembalian atau cicilan dari konsumen menunjukkan kinerja positif. Artinya, potensi terjadi pinjaman macet sangatlah kecil. Tingkat keberhasilan bayar konsumen 90 hari sejak jatuh tempo (TKB 90) mencapai 92,42%.

Kini, ada sebanyak 38 jasa fintech telah mengantongi izin dari OJK. Adapun 117 perusahaan fintech lainnya baru menyandang status terdaftar.

“Apabila dirinci 8 fintech mengalami pembatalan tanda terdaftar karena terlambat penyampaian pengajuan permohonan izin. Sebanyak 30 sudah live demo dan site visit, 16 tengah menjalani proses pemenuhan dokumen, 44 mengulangi proses perizinan, dan 27 lagi belum jatuh tempo 1 tahun perizinan,” kata Riswinandi.

Lazim

Menanggapi hal ini, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, bunga tinggi pada pinjaman perusahaan penyedia jasa fintech dianggap hal yang lazim, mengingat prosedur peminjaman melalui lembaga keuangan mikro seperti perbankan dianggap sulit dan terbatas bagi usaha mikro.

Menurut dia, memang butuh solusi dari pemerintah untuk alternatif pembiayaan bagi para pengusaha mikro agar usaha mikro bisa dengan mudah mengakses pembiayaan dengan bunga lebih tendah.

Meski demikian, Ketua Bidang Institusio­nal dan Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Tumbur Pardede, mengatakan saat ini tingkat bunga di tiap-tiap platform fintech bervariasi.

Namun, asosiasi menetapkan bunga pinjaman produktif 16%–30% per tahun, sedangkan bunga pinjaman konsumtif dibatasi 0,8% per hari dengan maksimal bunga dan biaya lainnya tidak lebih dari 100% per tahun. (Ten/S-1)

BERITA TERKAIT