12 November 2020, 15:55 WIB

Potensi Florikultura Khas Indonesia Bernilai Ekspor Tinggi


Benny Bastiandy | Ekonomi

TANAMAN florikultura di Indonesia mulai dikembangkan secara komersil. Pasalnya, varietas tersebut memiliki potensi ekspor cukup tinggi.

Hal itu dikatakan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, saat menghadiri ekspose inovasi tanaman hias bertema akselerasi diseminasi inovasi teknologi mendukung terwujudnya kesejahteraan dan urban farming industri florikultura modern, mandiri, dan berdaya saing di Balai Penelitian Tanaman Hias di Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (12/11).

"Acara ini sangat penting sejalan dengan upaya pemerintah mendorong ekspor komoditas unggulan sebagai sumber devisa," ujar Menteri SYL sapaannya.

Menteri SYL mengatakan, saat ini preferensi pasar internasional mulai berubah ke arah tanaman tropis. Kondisi tersebut tentu memberi peluang bagi para pengusaha di dalam negeri karena potensi pengembangan tanaman hias tropis
di Indonesia sangat tinggi.

"Indonesia itu memiliki kekayaan genetik florikultura yang terbesar di dunia," jelasnya.

SYL mencontohkan pengembangan bunga krisan yang sudah berproduksi ratusan juta tangkai. Sekarang bunga krisan bisa dikembangkan di dataran rendah yang awalnya hanya bisa tumbuh di dataran tinggi.

"Kita punya berbagai tanaman hias yang sangat khas. Tanaman-tanaman hias khas Indonesia ini dibutuhkan bahkan diminati hampir seluruh negara di dunia. Di Jepang, di Asia, di Saudi Arabia, di tanah jazirah Arab, di Inggris, di Eropa, maupun di Amerika," bebernya.

Pengembangan industri florikultura memerlukan dukungan inovasi berkelanjutan berupa varietas unggul baru dan teknologi pendukungnya. Ketersediaan inovasi unggul merupakan faktor kunci dalam pengembangan subsektor florikultura.

"Inovasi teknologi harus bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas produksi dan produktivitas, sehingga dapat memacu pertumbuhan produksi dan peningkatan daya saing," jelasnya.

Berkembangnya berbagai varieta komoditas floriktura tak terlepas karakteristik alam Indonesia yang sangat luar biasa. Menurut SYL, pengembangan tanaman hias tak harus selalu dilakukan di lahan luas.

"Di halaman-halaman rumah yang besok bisa didorong. Butuh peran serta pemerintah daerah. Kita (Kementerian Pertanian) yang mengasistensinya. Kita memberikan support system," jelasnya.

Syahrul mengapresisasi Pemkab Cianjur yang telah berperan serta aktif membantu dan memfasilitasi pengembangan berbagai komoditas tanaman hias. Situasi itu dikolaborasikan dengan jajaran Kementerian Pertanian dalam hal ini Direktorat Jenderal Hortikultura yang terus memberikan penguatan-penguatan.

"Katakanlah dalam hal memberikan asisten, bagaimana pembibitan, mengambil bibit awal, dan membudidayakan tanaman-tanaman hias," ungkapnya.

Upaya lain, kata Syahrul, Kementerian Pertanian akan mendorong seluruh atase pertanian di semua negara menjadi pintu masuk mempromosikan berbagai komoditas hortikultura. Syahrul tak memungkiri bukan perkara mudah, tapi dengan kebersamaan dan upaya serius, berbagai inovasi dan pengembangan komoditas tanaman hortikultura atau florikultura akan terwujud.

"Atase-atase pertanian harus menjadi pintu masuk menjual berbagai komoditas pertanian, termasuk di dalamnya varietas hortikultura," imbuhnya.

Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian menekankan bahwa pentingnya hasil penelitian memiliki nilai ilmiah tinggi yang aplikasinya memberi dampak luas serta dapat meningkatkan secara langsung pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat.

"Inovasi florikultura yang telah dihasilkan perlu segera diintroduksikan secara sistemik, cepat, dan masif ke tangan pengguna. Salah satunya melalui kerja sama kemitraan untuk pengembangannya," pungkasnya.

Kepala Balitbangtan Kementerian Pertanian, Fadjry Jufry, menambahkan hingga saat ini telah dihasilkan sekitar 268 VUB tanaman hias. Terdiri dari krisan, anggrek, lili, anthurium, mawar, gladiol, gerbera, tapeinochilus, zingiber, alpinia, anyelir, sedap malam, dan impatiens.

"Pada 2010, Balithi meraih rekor Muri sebagai institusi pelepas varietas terbanyak dalam kurun satu tahun sebanyak 25 varietas," terang Jufry.

Inovasi teknologi lainnya adalah teknologi perbanyakan benih tanaman hias secara in vitro, masalisasi benih anggrek melalui teknologi embriogenesis
somatik berbasis bioreaktor, teknologi night break, pemupukan, dan pengendalian hama atau penyakit secara terpadu. Selain itu ada juga produk unggulan seperti Gliokompos dan Bio Nutri yang saat ini telah dipatenkan dan di lisensikan.

"Varietas Puspita Nusantara telah diekspor ke luar negeri seperti Jepang, Jeddah, dan Kuwait," bebernya.

Produk unggulan Balithi ini telah mampu memberikan Economic benefit dan social impact yang cukup besar. Varietas unggul krisan Balithi telah mampu menggantikan sekitar 35% dari total varietas yang beredar di pasar dalam negeri. (OL-13)

Baca Juga: Universitas Negeri Padang Ciptakan Robot Antikorona

BERITA TERKAIT