04 November 2020, 07:15 WIB

Negara Kuat Kalau Pangannya Cukup Kuat


M. Iqbal Al Machmudi |

PROGRAM Indonesia Bicara Media Indonesia kali ini menampilkan dialog dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Dialog yang dipandu Ketua Dewan Redaksi Media Group Usman Kansong itu mengambil tema Pangan untuk Semua. Berikut petikan dialog yang disiarkan secara live streaming itu, Selasa (3/11).

Apa konsep besar Kementerian Pertanian di bawah Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam mewujudkan ketahanan pangan?
Pangan adalah sesuatu yang tidak dapat ditunda, pangan adalah kebutuhan dasar. Sebuah negara bisa kuat apabila ketersediaan pangannya cukup untuk menyuplai kebutuhan negaranya. Artinya sebuah negara kuat kalau pangannya cukup kuat. Berdasarkan hal itu Kementerian Pertanian tugasnya sangat penting, strategis, dan mendasar untuk mempersiapkan ketahanan pangan. Apalagi negara ini memiliki 273 juta orang, sehingga tugas utama saya beserta jajaran kementerian dan bekerja sama semua stakeholder khususnya petani yakni mempersiapkan makan 273 juta orang yang tidak boleh terganggu.

Oleh karena itu Kementan memiliki 11 pangan dasar yang dijaga yakni beras, jagung, bawang merah, bawang putih, daging sapi, gula, telur, minyak goreng, cabai besar, cabai rawit, dan daging ayam. Dari 11 komidi strategis tersebut 3 diantaranya masih mengandalakan impor karena memang tidak tersedia seperti bawang putih yang tumbuh di negara subtropis sehingga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dibutuhkan itu (impor). Tetapi bawang merah kita yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara lain di dunia.

Selanjutnya yakni daging sapi masih kurang harus impor ketersediaan yang dibutuhkan 200 ribu-300 ribu ton per tahun, dan gula industri yang masih impor cukup besar. Tetapi dari 11 komoditi yang ada, dari persiapan yang ada selama 1 tahun ini dari neraca yang dibuat perkiraan termasuk terpaksa impor maka harus didatangkan. Insyaallah hingga Desember 2020 nanti sudah dihitung terkendali dengan ketersediaan yang cukup.Kami juga memiliki 2 program utama yaitu mempersiapkan musim tanam 1 khusus untuk pangan dasar yang terkait dengan padi dalam hal ini ketersediaan beras.

Pemerintah memiliki satu single data 7,4 juta hektare sawah yang ada. Sehingga diharapkan musim tanam 1 bisa memproduksi di atas 15 juta ton, kita masih punya carry over kurang lebih 5 juta ton maka totalnya 20 juta ton sampai dengan Agustus 2020 dikonsumsi sekitar 16 juta ton sehingga tersisa 7,2 juta ton stok yang ada.Dari Agustus hingga Desember digunakan musim tanam 2 karena ada ancaman kekeringan dan peringatan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) maka dipersiapkan 7,4 juta hektare dan hanya 6 juta hektare, dan kurang lebih ada 5,6 juta hektare yang masih ada airnya.

Saksikan selengkapnya dalam program Indonesia Bicara

Musim Tanam 2 ini program Kementan yakni melakukan percepatan penanaman dan mengejar air yang tersisa dan Alhamdulillah sampai sekarang hasil survei secara manual maupun dengan pencitraan satelit yang ada, kondisi lahan 5,6 juta hektare tersebut bisa menghasilkan lebih banyak karena ternyata yang tersedia 5,8 juta hektare. Inshaallah bisa menghasilkan 12-15 juta ton ditambah 7 juta ton yang tersisa maka beras yang tersisa sekitar 22 juta ton sampai Desember 2020.Kebutuhan makan kita sampai Desember adalah 14-15 juta ton oleh karena itu akan terjadi carry over yang terjadi pada 6-7 juta memasuki 2021. Dalam kondisi pandemi saat ini masyarakat tidak bisa menunda membeli pangan. Perintah Presiden Joko Widodo untuk mempersiapkan dengan baik.

Inovasi apa yang dilakukan Kementan untuk menjaga ketahanan pangan?
Kementan juga memiliki langkah sampingan yakni Cara Bertindak Tambahan (CB) 1, CB 2, CB 3, CB 4, dan CB 5. CB 1 sendiri ialah pengembangan lahan rawa atau melakukan langkah ekspansi kepada lahan rawa yang ada. Hal ini karena ada ancaman kekeringan kemarin dan sering dikatakan dengan food estate.

Kemudian ada peningkatan produksi yang berkaitan dengan substitusi impor terutama gula diperkuat jika ada tambahan maka bisa dilakukan. Kemudian ada perluasan tanam areal dari program 5,6 juta hektare diperkuat lagi dengan 250 ribu hektare lahan baru. Jadi akan ada lahan baru sekitar itu dengan demikian akan menjadi 5,9 juta hektare.

CB 2 sendiri merupakan diservikasi makanan seperti jagung, talas, pisang, ubi, kentang, sorgum dan lainnya yang dibagi setiap provinsi. Selain itu ada tanaman pekarangan atau tanaman hidroponik yang terus Kementan gencarkan. Yang PHK juga terus kita sosialisasikan sehingga mendapatkan pendapatan. Jika efektif maka bisa mendapat Rp700 ribu per bulan.

Kemudian, CB 3 ialah penguatan logistik atau menumbuhkan lumbung pangan provinsi, kabupaten, hingga desa. Saya berharap dengan kondisi apapun ada serapan beras yang tersedia di desa minimal 30 ton per satu desa.

CB 4 sendiri ialah pengembangan pertanian modern melalui food estate di Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah. Pengembangan ini berbentuk koperasi.

Dan terakhir CB 5 ialah meningkatkan gerakan 3 kali ekspor dan sudah dilakukan. Pertanian menyumbang 16,4% artinya kami sudah bekerja dengan kekuatan yang ada untuk mempersiapkan itu. Selain itu, ekspor kita juga naik 9,2% sampai Agustus 2020 mencapai Rp258 triliun. Saat ini juga ada di Jawa Timur untuk ekspor pakan ternak yang dibutuhkan negara-negara Eropa. Pakan ternaknya sendiri berbentuk buser yang dicampur dengan pakan biasa.

Soal food estate, apa yang akan diprogramkan selanjutnya?
Jadi ada 2 daerah food estate dan tambahan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih dirintis. Jadi food estate itu memiliki komoditi terdiri dari beberapa seperti peternakan, tanaman pangan, jeruk, kelapa dan budidaya di sana multi komoditi. Food estate merupakan sebuah proses budidaya dengan memanfaatkan mekanisasi dengan cara bertani modern. Seperti irigasi yang memakai pompa, irigasi yang tersier dan irigasi sprinkler. Oleh karena itu adanya penataan baru dan kemudian yang harus membawa koporasi 1.000 hektare sehingga produktivitasnya bisa dicapai dan terhitung.

Di hilirisasi ada budidaya tanam, pasca panen diatur kemudian di industrinya jadi beras yang keluar adalah premium dan kemudia varitasnya diatur dan packagingnya keluar sehingga bisa bertahan 1-2 tahun dan tidak rusak.

Di market place akan ada digitalisasi yang akan main di sana dan akan menembus ekspor setelah kekuatan nasional sudah terlampaui. Petani tidak lagi menjual gabah tetapi harus menjual beras, briket sekam, pelet dedak, jerami yang sudah dibuburkan menjadi piring, jus jeruk yang dikmas, coconut oil, hasil peternakan seperti telor asin. Jalan maksimal di Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatra Utara, Kalimantan Tengah, dan akan berjalan di NTT.

Saksikan dialog selengkapnya dalam program Indonesia Bicara

Kapan sistem food estate berjalan?
Pada tahun ini akan ada di Kalimantan Tengah kurang kebih 30 ribu hektare di 2 kabupaten yakni di Kabupaten Pulang Pisau sebanyak 10 ribu hektare dan Kabupaten Kapuas sebanyak 20 ribu hektare, kemudian di Sumatera Utara juga ada, selain itu kita jajaki NTT kami persiapkan dalam 2 bulan untuk mempersiapkan pengolahan 5 ribu hektare.

Peternakan apakah termasuk dalam food estate?
Khusus di Kalimantan Tengah yang dimulai pada akhir 2020 dan memasuki 2021 itu adalah itik. Kemudian di Kabupaten Humbang yang khusus yakni kentang, bawang merah dan bawang putih, kopi, jeruk, ternak besar yakni sapi. Tetapi ini akan sulit karena ini merubah peradaban karena biasanya bertani sendiri-sendiri kini semua diatur dari hulu hingga hilir dan bermuara pada industri dan berharap pasar bisa di antisipasi.

Konsentrasi awal di NTT adalah persiapan pangan dasar seperti padi dan jagung dengan irigasi sprinkler dan peternakan akan menjadi lini 2 sehingga tetap jalan dengan konsentrasi semi intensif.

Apa yang dilakukan Kementan pada milenal untuk bertani?
Kami akan melatih 2,5 juta anak muda di 34 provinsi, lebih dari 500 kabupaten/kota. berbagai macam bentuk pelatihan. Salah satu yang dikembangkan ialah mencoba menghadirkan duta-duta milenial pertanian di beberapa daerah sehingga menjadi role model dan semua terlihat berhasil.

Kemudian kita coba kembangkan hampir 400 startup yang ada dan bekerja sama dengan berbagai daring sistem yang sudah berjalan. Kami membuat konsentrasi pada semua kecamatan yang dinamakan Kostratani ynag berfungsi melakukan pelatihan, menimbulkan ketrampilan untuk milenial sehingga merasakan bahwa pertanian sesuatu yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik dan memiliki pasar yang terbuka.

Rata-rata anak milenila yang dikembangkan sudah bisa menghasilkan per bulan Rp20juta -40 juta sehingga image mereka dengan teknologi bisa lebih optimal. Kedepannya saya berharap milenial ke depannya tidak kotor kakinya tidak menyentuh tanah tapi mampu menghasilkan pertanian yang lebih efektif.

Bagaimana dengan pemanfaatan digitalisasi?
Ujung dari semua pasar harus digital sekarang kita di pertanian ada Agriculture War Room (AWR) atau ruang Kontrol Pembaharuan Pertanian yang mendeteksi seluruh pertanian di Indonesia. Dengan menggunakan pencitraan satelit pusat bisa tahu apa yang terjadi dan dibutuhkan di daerah. Dan berharap tahun depan akan semakin efektif sehingga semua yang dari digital bisa berjalan.

Sektor pertanian di kemudian hari?
Pertanian adalah sesuatu yang pasti ada di depan kita dan memberi ruang begitu banyak kesempatan bagi semua orang untuk bisa menghasilkan sesuatu minimal untuk dirinya, untuk kebutuhan kehidupannya, dan melangkah keluar dari keluar dari rumah kita sudah bisa bertani. Indonesia diberikan Allah memiliki matahari, angin, dan air yang cukup, leh karena itu semua komoditi pertanian dengan riset sains dan teknologi yang tersedia sekarang ini bisa menghasilkan cukup banyak hal yang bisa diproduksi untuk kehidupan.

Kalau begitu Indonesia yang besar ini memang harus kita yakini pertanian adalah sebuah sektor pilar utama menghadirkan landasan ekonomi yang kuat. Kalau begitu Kementerian Pertanian tidak bisa sendiri membutuhkan semua pihak membutuhkan tangan-tangan media agar motivasi untuk bertani hadir di tengah-tengah. Selain itu, teknologi dan hasil-hasil riset mempersiapkan segalanya seperti di beberapa negara, pinggir pantai pun orang bisa bertanam padi di dalam rumah pun bisa bertanam padi. Kalau begitu kenapa kita tidak, kita harus menuju ke arah itu.

Oleh karena itu saya yakin negara yang besar seperti ini dengan kemampuan dan kekuatan alam yang cukup besar dan SDM yang banyak, yang paling siap untuk perkembangan ekonomi memperkuat kemampuan negara adalah pertanian jangan cari yang lain. (X-10)

BERITA TERKAIT