31 October 2020, 03:50 WIB

Sinergi Diperlukan untuk Jadi Produsen Industri Halal Dunia


Iam/X-10 |

INDONESIA berpeluang menjadi pusat produsen halal dunia. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kerja sama erat antara pemerintah, swasta, BUMN, organisasi kemasyarakatan, dan publik secara umum.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengungkapkan industri halal memiliki peran yang cukup signifikan atas performa positif neraca perdagangan.

Pada periode Januari - Agustus 2020, kinerja neraca perdagangan Indonesia dengan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menunjukkan performa positif dengan mencatatkan surplus sebesar US$2,46 miliar.

“Pada periode tersebut Indonesia mampu membukukan ekspor ke negara anggota OKI sebesar US$12,43 miliar,” kata Agus dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Menurut ukuran pasar, negara-negara OKI merupakan pasar yang luar biasa besar. Terdiri atas 57 negara anggota, dengan total populasi muslim sebesar 1,86 miliar jiwa atau sekitar 24,1% dari total populasi dunia.

Ekspor produk Indonesia ke negara berpenduduk mayoritas muslim tidak dapat dilepaskan dari peran produsen produk halal Indonesia, khususnya untuk produk makanan, kosmetik, dan obat-obatan.

Ketiga produk itu berkontribusi sebesar total 7,42% terhadap impor produk halal dunia.

“Tren impor produk halal negara OKI periode 2015-2019 cenderung meningkat 5,27%. Meski demikian, pangsa pasar ekspor produk halal Indonesia ke negara OKI masih harus dapat dimaksimalkan,” ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, Kepala Unit Halal PT Sucofindo, Adisam, mengatakan produk halal mengalami pertumbuhan selama pandemi covid-19 karena dianggap lebih sehat dan bermanfat untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Ini menjadi momentum untuk meningkatkan indeks ekonomi makanan halal bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Terjadinya pertumbuhan ekonomi halal di berbagai lintas sektor baik secara nasional maupun global, food and beverage mengalami peningkatan yang signifikan,” jelasnya dalam Webinar Standardisasi Produk UMKM bertema Mewujudkan produk halal dan thoyyib menuju UMKM Indonesia Maju, yang diadakan ISEF Indonesia, kemarin.

UMKM perlu melihat peluang dari logistik, bahan baku, distribusi, sampai pendukung lainnya sehingga bisa berkembang melalui branding dan dukungan regulator.

“Munculnya paradigma baru halal menjadi sebuah tren dan primadona di Indonesia,” ujar Adisam. (Iam/X-10)

BERITA TERKAIT