15 September 2020, 17:22 WIB

Survei BPS: Mayoritas Pendapatan UMKM Anjlok Akibat Pandemi


M. Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

BADAN Pusat Statistik (BPS) melakukan survei terhadap pelaku usaha yang terdampak pandemi covid-19. Hasilnya, pelaku usaha berskala kecil maupun besar mengalami penurunan pendapatan.

Adapun survei berlangsung pada 10-26 Juli 2020. Dalam hal ini, penurunan pendapatan terjadi di sektor Usaha Menengah Kecil (UMK) dan Usaha Menengah Besar (UMB)

Survei BPS menyasar 34.559 pelaku usaha. Mayoritas atau 80% merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Baca juga: Indef: Pemerintah Masih Lamban Bantu UMKM

"Covid-19 ini betul-betul memukul dunia usaha, baik UMK maupun UMB. Sebanyak 84% UMK dan 82% UMB mengalami penurunan pendapatan," ungkap Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Selasa (15/9).

Dari survei BPS, juga terlihat sebanyak 59,8% UMK masih beroperasi secara normal. Kemudian, 24% melakukan pengurangan kapasitas, 10,1% berhenti beroperasi, 5,4% bekerja dari rumah dan 0,5% melebihi kapasitas.

Sementara UMB yang masih beroperasi sekitar 49,4% dan pengurangan kapasitas 28;8%. Kemudian, sekitar 5% berhenti beroperasi, 16,3% bekerja dari rumahs dan 0,5% melebihi kapasitas.

Baca juga: BPS: Ekspor Agustus 2020 Alami Penurunan

"Kita lihat ada beberapa pelaku usaha yang kegiatan bisnisnya melebihi normal. Tentunya dengan komoditas tertentu. Di tengah covid-19, industri ini justru mendapatkan keuntungan lebih dibandingkan situasi normal," imbuh Suhariyanto.

Komoditas usaha yang menuai keuntungan ialah industri jamu, penjualan masker, penjualan sepeda, hingga penjualan jasa internet. Diketahui, hanya 13% UMK yang pendapatannya tetap dan 2% pendapatannya cenderung meningkat.

Sementara itu, 14% UMB menyebut pendapatannya tetap dan 3% pendapatannya meningkat. Banyak pelaku usaha akomodasi, makanan, dan minuman terdampak cukup dalam dengan persentase 92,47%.

Baca juga: Berjuang Saat Pandemi, UMKM Butuh Pendampingan

Kemudian, pelaku usaha sektor transportasi dan pergudangan juga terdampak sekitar 90,34%. Adapun 87,94% pelaku kontruksi juga mengalami penurunan pendapatan dan pelaku industri pengolahan 85,98% juga mengalami hal serupa.

"Ada sektor perdagangan yang 84,60% pelaku usahanya mengalami penurunan pendapatan. Jasa lainnya sebanyak 90,90%. Bila dibandingkan kuartal II 2020, survei ini sangat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi," tandasnya.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT