15 September 2020, 06:20 WIB

Penerbangan Tergelincir hingga 65%


Ant/E-2 | Ekonomi

KETUA Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Niaga Nasional (Inaca) Denon Prawiraatmadja menyebut pertumbuhan ekonomi yang mengalami penurunan hingga 10% turut dikontribusi penurunan di sektor penerbangan sebesar 65%.

“Sehingga turunnya ekonomi 10% ini juga akibat dari 65% turunnya kegiatan penerbangan nasional kita,” kata Denon dalam diskusi virtual bertajuk Upaya Menciptakan Penerbangan yang Selamat, Aman, Nyaman, dan Sehat, kemarin.

Ia menjelaskan penurunan pergerakan penumpang pesawat di Indonesia sudah terjadi sejak 2018. Di sepanjang tahun tersebut, tercatat sebanyak 115 juta penumpang kemudian turun 21% menjadi 91 juta penumpang di 2019.

Kemudian, lanjut dia, penurunan penumpang terus terjadi awal 2020 seiring dengan adanya pandemi covid-19 yang mulai merebak di Tiong­kok. Lalu pada Maret 2020, pemerintah Indonesia mulai mengumumkan adanya kasus covid-19 pertama di Tanah Air, dan membuat 80% penumpang domestik tergerus. Padahal, penumpang domestik merupakan pasar terbesar bagi penerbangan Indonesia yang porsinya hingga 80%.

“Peran transportasi udara yang menurun cukup signifikan itu berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi, yang tadinya 5,17% di 2018 menurun minus 5,2% di 2020,” katanya.

Menurut dia, kepercayaan masyarakat akan kembali terbangun apabila kasus penyebaran covid-19 menurun.

Di diskusi yang sama, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Sumatra Barat Purnawan mengatakan hasil survei yang dilakukan lembaganya menunjukkan masih besarnya anggapan di masyarakat yang khawatir menggunakan pesawat.

“Sebagian besar mereka mengatakan naik pesawat masih berbahaya,” kata Purnawan.

Ia menjelaskan survei tersebut diikuti 193 responden usia aktif dan terdapat 55 responden yang menggunakan pesawat selama masa pandemi. Sebagian besar res­ponden yang menggunakan pesawat saat pandemi covid-19 untuk tujuan tugas kantor (47,3%) dan urusan keluarga (41,8%).

“Sebagian besar responden yang menggunakan pesawat karena tidak ada pilihan lain, misalnya karena tugas, jadi harus cepat,” ujarnya. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT