31 August 2020, 15:14 WIB

BUMN tak Bisa Bantu Tekan Resesi


Hilda Julaika | Ekonomi

BADAN Usaha Milik Negara (BUMN) tak bisa didorong untuk menekan potensi resesi tahun ini. Menurut Ekonom senior Faisal Basri, hal ini disebabkan jika BUMN didorong untuk melakukan hal di luar kapasitasnya akan memicu jatuhnya dunia usaha swasta.

“Saya takutnya justru kalau kita dorong BUMN melebihi normal itu akan crowding out dunia usaha swasta. Sehingga BUMN naik dan swasta turun lalu nettonya akan minus,” kata Faisal dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi VI DPR RI, secara virtual, Senin (31/8).

Sehingga menurutnya, justru peranan BUMN yang melebihi proporsinya akan membuat pertumbuhan ekonomi semakin anjlok. Karena BUMN ini akan melakukan aliansi strategis yang memicu hilangnya persaingan di dunia usaha.

Baca juga : BI: Uang Beredar Tumbuh Capai Rp6.567,7 triliun

“Yang akan dilakukan mereka melakukan aliansi strategis. Impor dilakukan oleh BUMN untuk Alat Pelindung Diri (APD) ini kan ke Tiongkok terus dia jual ke apotek dan rumah sakit di Indonesia. Sementara, usaha lain gak boleh impor kan ongkosnya naik buat rakyat. Buat BUMN untung tapi rakyatnya rugi. Ini yang Erick Thohir lakukan. Jadi tidak ada kompetisi sama sekali. Atas nama Sinergi BUMN,”kritiknya.

Atas dasar ini, menurut Faisal sebaiknya BUMN kembali ke khitahnya untuk memiliki peranan yang adil. Dengan begitu, baru akan mengalami peningkatan yang lebih natural. Menurutnya, pemulihan ekonomi akan terjadi saat semua elemen bangsa berkolaborasi. Peran BUMN di sini sebagai katalisator dan pendorongnya.

“Kalaus sekarang Erick Thohir targetnya BUMN meningkat porsinya di dalam PDB itu bukan tujuan BUMN. Kan bukan untuk semakin besar perolehannya, bukan itu visinya. Tapi BUMN jadi ujung tombak sehinga PLN bisa keren listriknya, keren PGN dan Pertamina bisa jual gas dengan harga yang kompetitif,” pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT