11 August 2020, 05:00 WIB

Investor Pasar Modal Melambung


SURYANI WANDARI PUTRI | Ekonomi

PANDEMI covid-19 yang membuat gerak masyarakat terbatas malah melambungkan jumlah investor di pasar modal.

Data yang ada menunjukan bahwa jumlah investor berdasarkan single investor identifi cation (SID) per 31 Juli 2020 tercatat sebanyak 3.022.366. Jumlah itu naik 17,8% atau lebih
dari 500 ribu jika dibandingkan SID per 31 Desember 2019 sebesar 2.484.354.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen mengatakan bahwa peningkatan jumlah investor itu menunjukkan kepercayaan yang besar atas
pasar modal di Indonesia.

Namun, bila dilihat, jumlah 3 juta itu masih tergolong kecil dibandingkan total penduduk Indonesia.

Persentasenya masih kecil, yakni 1,12% dari jumlah penduduk. Sehingga perlu untuk terus didorong agar bertambah.

“Tingkat literasi dan inklusi investor pasar modal posisinya jauh di bawah tingkat literasi perbankan,” ujarnya dalam perayaan 43 Tahun Pengaktifan kembali Pasar Modal
Indonesia, di Jakarta, kemarin.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian ke depan ialah jumlah emiten dan nilai emisi penawaran umum di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang masih relatif kurang.

Sejak awal tahun hingga 7 Agustus 2020, total nilai emisi hanya mencapai Rp3,3 triliun dari 29 emiten yang memperoleh pernyataan efektif.

“Hal ini bahkan lebih kecil jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019, yakni sebesar Rp8,5 triliun dari 29 emiten yang memperoleh pernyataan efektif dan tercatat
di bursa,” ujar Hoesen.

Namun demikian, bursa saham Indonesia ternyata memiliki daya tahan yang cukup kuat dalam menghadapi pandemi. Hal ini terbukti dari menguatnya kembali indeks dari titik kejatuhan terendahnya di level 3.937 pada Maret lalu. Per 7 Agustus 2020, IHSG berada di posisi 5.143 poin.

Peran market maker


Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyebutkan pentingnya market maker untuk meningkatkan kembali kepercayaan publik terhadap pasar modal.

“Ke depan kami menekankan pentingnya adanya market maker untuk meningkatkan likuiditas perdagangan dan mempersempit celah untuk menggoreng saham, sehingga pasar
modal Indonesia menjadi lebih kredibel,” ujar Wimboh.

Market maker adalah pihak yang ditunjuk bursa untuk selalu menyediakan kuotasi bid and offer dalam jumlah yang memadai. Market maker akan bertindak sebagai
pembeli dan penjual siaga (standby buyer and seller) untuk saham perusahaan yang akan ditentukan bursa.

Regulasi terkait market maker sendiri masih digodok OJK dan BEI dan ditargetkan akan rampung pada semester kedua tahun ini.

Meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap industri pasar modal, lanjut Wimboh, memang menjadi satu dari sejumlah tantangan yang tidak mudah.

Wimboh menuturkan pihaknya juga terus melakukan perbaikan yang dirangkum dalam reformasi di industri pasar modal, yang mencakup percepatan proses perizinan, penyempurnaan infrastruktur, penguatan pengawasan, dan penegakan hukum di pasar modal untuk menjaga integritas pasar.

“Oleh karena itu, investor maupun calon investor tidak perlu takut untuk berinvestasi di pasar modal,” ujarnya. Kemarin, perdagangan di BEI ditutup menguat 13,94 poin atau 0,27% ke posisi 5.157 dengan nilai perdangan mencapai Rp7,2 triliun.(Ant/E-1)

BERITA TERKAIT