09 July 2020, 10:25 WIB

Strategi Perusahaan Elektronik di Masa Pandemi Covid-19


Mediaindonesia.com | Ekonomi

DAMPAK pandemi covid-19 masih dirasakan oleh hampir seluruh industri baik secara global maupun nasional. Apalagi sampai saat ini, sejumlah daerah masih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal itu berdampak bagi perusahaan terutama di bagian operasional. Tidak sedikit perusahaan yang tumbang atau melakukan pemangkasan jumlah karyawan guna menyelamatkan bisnis.

Menurut National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, manufaktur, terutama elektronik, merupakan salah satu sektor memberikan kontribusi terbesar bagi produk domestik bruto (PDB). Tapi sejak pandemi, manufaktur menjadi sektor nomor tujuh yang paling terdampak akibat pandemi covid-19. Andry mengutip data BPS pada kuartal I ini tentang pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang hanya 2,84%.

Baca juga: Perdagangan Elektronik Indonesia Terus Tumbuh

Karena itu, pihaknya menerapkan tiga strategi dalam menjalankan bisnis saat ini. "Kami mengoptimalkan penggunaan internet, menghitung presisi terhadap potensi permintaan pasar, dan menghadirkan produk baru yang sesuai dengan perubahan gaya hidup di masa pandemi," ujar Andry dalam web conference .

Melalui strategi itu, Sharp mampu mempertahankan performa bisnisnya dengan melakukan beragam kampanye penjualan melalui kanal digital. Guna melengkapi lini produk yang ada, di masa pandemi ini, Sharp telah dua kali meluncurkan produk ke pasaran. Pada awal Juni lalu, perusahaan meluncurkan smartphone sebagai lini bisnis barunya yaitu Aquos Zero 2 dan R3 dan lini lemari es satu pintu terbaru Kirei III.

Berangkat dari riset di lapangan, dampak dari pandemi membuat  masyarakat Indonesia kerap berbelanja banyak guna menyimpan persediaan dan bahan makanan. “Akibatnya mereka membutuhkan lemari es tambahan untuk menampung persediaan makanan tersebut. Lemari es satu pintu menjadi pilihan yang tepat karena desainnya yang kompak dan ruang penyimpanan yang cukup luas,” lanjut Andry.

Kinerja perusahaan dalam kurun waktu 3 bulan terakhir kembali menunjukan peningkatan produksi hingga 40%, seiring dengan meningkatnya permintaan pasar yang berujung pada kenaikkan penjualan. Presiden Direktur Sharp Electronics Indonesia, Shinji Teraoka, menceritakan perusahaan berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan baru sejak awal Maret lalu hingga pertengahan April.

"Beruntung, produk-produk unggulan kami seperti Air Purifier mendulang performa positif pada akhir April lalu. Kami dapat bertahan hingga kami mampu menghindari pemangkasan jumlah karyawan, Kami akan berusaha semampu kami untuk menjadikan hal tersebut menjadi pilihan paling akhir. Kesejahteraan karyawan menjadi prioritas kami," ujarnya.

Hal itu tidak terlepas dari kinerja efisien dari sektor operasional dan penjualan perusahaan. Pasalnya, kendati pegawai yang datang ke pabrik berkurang dengan diterapkannya work from home (WFH), tapi dapat dimaksimalkan dengan pembagian tugas yang efektif dan efisien. Begitu pula dengan kendala penutupan pertokoan dan pusat perbelanjaan yang mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat yang berdampak pada  penjualan dapat diatasi melalui  strategi penjualan online.

Akhirnya, pada April lalu Sharp berhasil memproduksi lemari es ke-20 juta unit sejak berdiri di Indonesia. Perusahaan pun optimistis penjualan 360 ribu kulkas Kirei III selama setahun dengan berkontribusi sekitar 25-30% dari total penjualan lemari es satu pintu. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT