31 March 2019, 10:00 WIB

Penetrasi Dompet Elektronik masih Cilik


Fetry Wuryasti | Ekonomi

KEMAJUAN teknologi menyebabkan proses pembayaran kini semakin mudah. Konsumen kini tidak terhambat kegiatan belanjanya apabila tidak membawa dompet dan uang tunai.

Tak lagi menggunakan uang tunai, mulai bermunculan metode pembayaran cashless atau tanpa tunai berbasis kartu maupun seluler. Di Indonesia, layanan keuangan berbasis digital disebut dompet elektronik atau e-wallet melalui ponsel pintar yang kini tengah menjadi primadona.

Peluang emas itu coba dibidik sejumlah pelaku bisnis dompet digital. Tidak ketinggalan badan usaha milik negara (BUMN) yang bersatu menghadirkan LinkAja.

Di dalamnya bergabung empat bank (BRI, Mandiri, BNI, BTN) bersama Pertamina, Jiwasraya, dan Telkom melalui sistem pembayaran TCash mereka. Platform LinkAja beroperasi pada sistem pembayaran dompet digital berbasis quick response code (QR code).

Baca Juga : Pemerintah Terus Perluas Jaringan Gas

PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), anak usaha Telkomsel, menjadi induk dan pengelola layanan dompet digital tersebut. Direktur Utama Tcash, Danu Wicaksana, pun didapuk memimpin layanan ini.

Menurut Danu, alasan penggabungan platform sistem pembayaran BUMN, yaitu penetrasi uang elektronik di Indonesia masih sangat rendah. Ramainya pemakaian dompet dan uang elektronik masih terpusat di Jakarta. "Yang terlihat di Jakarta bukan berarti sama juga di berbagai daerah di Indonesia," ujar Danu saat dihubungi Jumat (29/3).

Semula aplikasi alat pembayaran digital itu direncanakan meluncur pada awal Maret 2019. Lantas dengan alasan masih perlu pengoptimalan sistem dan migrasi, LinkAja baru dapat digunakan per 1 April 2019.

"Saldo e-cash nanti gabung ke saldo LinkAja. Launching tidak mundur. Memang tahapannya ada, mulai migrasi pengguna Tcash di awal Maret, lalu migrasi user bank-bank Himbara minggu terakhir Maret," jelas Danu.

Kerja sama

Kehadiran LinkAja akan bersaing dengan Go-Pay milik PT Dompet Anak Bangsa. Head of Corporate Affairs Go-Pay, Winny Triswandhani, mengatakan sejak diluncurkan pada 2016, pertumbuhan Go-Pay sangat pesat dan menjadi pembayaran digital terpopuler di Indonesia. "Ini menurut survei pihak ketiga, yaitu dailysocial-OJK, Financial Times, dan Yougov," ujar dia saat dihubungi Sabtu (30/3).

Saat ini angka penetrasi uang elektronik dan transaksi nontunai di Indonesia masih sangat kecil. Go-Pay melihat kehadiran LinkAja sebagai hal positif karena dapat bersama-sama mempercepat penetrasi nontunai dan edukasi masyarakat.

"Sebagai fintech Tanah Air, pasti kami berharap bisa bekerja sama dengan pemerintah dan BUMN, termasuk LinkAja, untuk akselerasi Gerakan Nasional Nontunai (GNNT). Yang diuntungkan, yaitu jutaan masyarakat yang belum tersentuh perbankan, apalagi merasakan pembayaran nontunai," ujar Winny.

Untuk itu, Go-Pay menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dalam kurang dari setahun, dia mengklaim lebih dari 100 ribu UMKM menerima pembayaran nontunai lewat Go-Pay.

Sebagian dari mereka tidak punya akun bank, tetapi Winny yakin masih ada jutaan UMKM lain yang dapat digarap dalam waktu cepat jika semua pelaku bergandeng tangan dan bekerja sama. (Try/S-4)

BERITA TERKAIT