30 December 2021, 05:00 WIB

Menuju BBM Ramah Lingkungan


Mediaindonesia.com|Editorial MI

img

 

 

KIAN menguat keinginan menggunakan bahan bakar minyak ramah lingkungan. Menguat setelah pemerintah mewacanakan penghapusan BBM jenis premium (research octane number/RON 88) pada 2022.

Rencana penghapusan premium itu sejalan dengan ketentuan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) pada 2017 untuk mengurangi emisi karbon. Maka, direkomendasikan agar BBM yang dijual ialah minimal RON 91.

BBM dengan RON 91 ke atas dinilai lebih ramah lingkungan. Hal itu sekaligus menunjukkan tekad kuat dan keseriusan pemerintah Indonesia menyelamatkan lingkungan.

Saat ini sudah memasuki masa transisi. BBM jenis premium digantikan dengan BBM RON 90 atau pertalite yang dianggap lebih ramah lingkungan. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa perubahan dari premium ke pertalite mampu menurunkan kadar emisi CO2 sebesar 14%.

Sebuah roadmap yang menunjukkan ikhtiar bangsa ini untuk menggunakan energi yang lebih bersih. Resminya kebijakan penghapusan premium ini akan menunggu persetujuan Presiden Joko Widodo yang akan ditetapkan lewat peraturan presiden.

Upaya ini tidak akan berhenti di pertalite, bahkan pemerintah mencanangkan agar BBM yang ada di pasaran merupakan jenis pertamax (RON 92) ke atas. Jika nantinya dilakukan perubahan ke pertamax, itu akan menurunkan kembali emisi CO2 sebesar 27%.

Indonesia kini jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain, tidak perlu jauh di tingkat global, di regional Asia Tenggara saja Indonesia masih menggunakan BBM berstandar Euro, sedangkan negara tetangga sudah berstandar Euro 4 dan akan masuk ke standar Euro 5.

Di Singapura, minimal yang dijual ialah BBM RON 92. Sementara di Malaysia, minimal yang dijual, yaitu BBM RON 95 dan BBM RON 97. Kemudian di Thailand (BBM RON 91 dan BBM RON 95), Filipina (BBM RON 91, BBM RON 95, dan BBM RON 100), Vietnam (BBM RON 92, BBM RON 95, dan BBM RON 98).

BBM jenis premium sebenarnya sudah lama ditinggalkan oleh negara-negara di dunia. Saat ini hanya tersisa tujuh negara yang masih memasarkannya, termasuk Indonesia meskipun penjualannya hanya tinggal 2% dari total BBM yang dipasarkan PT Pertamina (persero).

Sesungguhnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan BBM yang lebih berkualitas dan lebih ramah lingkungan semakin meningkat di negeri ini. Buktinya, penyerapan premium oleh masyarakat semakin menurun dan emisi karbon bisa semakin ditekan.

Penggunaan energi yang lebih bersih sudah menjadi bagian dari peradaban modern. Untuk itulah konsistensi kebijakan energi bersih harus berjalan tegak lurus. Jangan lagi dibenturkan dengan potensi inflasi harga komoditas pokok.

Meski demikian, eloknya pemerintah perlu memitigasi risiko dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat. Karena itu, kiranya pemerintah mempertimbangkan untuk melakukan sosialisasi secara masif peta jalan BBM ramah lingkungan.

Jika peralihan itu berpotensi menimbulkan gejolak, tidak ada salahnya pemerintah menyiapkan skema subsidi untuk pembelian pertamax, terlebih pada masa-masa transisi dari pertalite ke pertamax nantinya.

Jauh lebih baik lagi jika pemerintah mulai menyiapkan angkutan massal yang aman dan nyaman sehingga orang berani beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

BACA JUGA
BERITA LAINNYA