13 November 2021, 05:00 WIB

Menebar Manfaat Sirkuit Mandalika


Mediaindonesia.com|Editorial MI

img

 

 

INDONESIA bakal menjadi tuan rumah kejuaraan World Superbike (WSBK) yang akan dihelat di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 19-21 November mendatang. Kemarin, Presiden Jokowi bahkan telah meresmikan dan menjajal lintasan sirkuit tersebut dengan sebuah motor sport yang dimodifikasi. Selain meresmikan sirkuit, Jokowi juga meresmikan jalan bypass yang menghubungkan Bandara Internasional Lombok dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Jalan sepanjang 17,3 kilometer itu telah siap digunakan dan akan memangkas waktu tempuh antara bandara dan kawasan tersebut.

Dengan digelarnya kejuaraan balap motor kelas dunia, kawasan Mandalika tentunya bakal segera menjadi perhatian masyarakat internasional, terutama penggemar otomotif. Sebagai event olahraga pertama berkelas dunia yang digelar di Tanah Air di era pandemi covid-19, penerapan protokol kesehatan tentu harus jadi prioritas utama yang mesti dipatuhi, baik oleh peserta, penonton, terlebih oleh penyelenggara event tersebut. Jangan sampai acara yang jadi sorotan dunia ini menjadi klaster baru penularan. Event ini harus jadi etalase bahwa pandemi covid-19 di Indonesia telah terkendali sehingga dapat menggerakkan sektor lainnya, terutama pariwisata.

Subkoordinator Strategi Event Daerah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Vicky Apriansyah mengatakan pihaknya telah menginstruksikan penerapan protokol kesehatan yang ketat sesuai dengan sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability), baik sebelum, selama, maupun setelah acara. “Ketiga aspek tersebut wajib diikuti oleh penyelenggara, penonton, maupun pengisi acara," kata Vicky di acara sosialisasi program CHSE, Kamis (10/11). Sejauh ini, kata dia, sosialisasinya baru mencapai 80%.

Mengingat event yang bakal berlangsung sepekan lagi, sosialisasi di lapangan tentunya harus dipercepat, jelas, dan terarah. Mulai dari kedatangan peserta dan penonton di bandara, hotel, hingga di arena sirkuit. Syarat wajib dua kali vaksin yang digadang-gadang sebagai salah satu cara menyeleksi calon penonton, jangan cuma di atas kertas. Begitu pun dengan syarat karantina bagi peserta dan penonton asing, wajib dilaksanakan tanpa kecuali. Jangan ada pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dengan memberi keleluasaan untuk meraup keuntungan pribadi.

Selain masalah protokol kesehatan, yang perlu diingatkan kepada pihak penyelenggara ialah faktor keamanan, baik untuk peserta maupun penonton. Indonesia memang bukan kali pertama menggelar ajang World Superbike. Sepanjang dekade 90-an, setidaknya empat kali event ini pernah diselenggarakan di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat. Justru berkaca dari pengalaman itu, pihak penyelenggara di Madalika perlu diingatkan, karena pernah ada seorang penonton yang masuk di lintasan Sirkuit Sentul pada salah satu gelaran di sana. Kejadian serupa bahkan pernah pula terjadi di Singapura ketika mereka menggelar balapan Formula 1 (F1) pada 2015.

Pelanggaran serius semacam itu perlu diingkatkan karena dapat berakibat fatal. Ini tentunya mesti jadi perhatian ekstra pihak penyelenggara, apalagi tahun depan mereka juga bakal menggelar Moto-GP yang jauh lebih bergengsi. Jangan sampai insiden sekecil apa pun membatalkan rencana tersebut. Masalah teknis juga perlu diperhatikan serius oleh pengelola lintasan. Jangan ada aspal yang mengelupas atau lintasan yang tidak rata, misalnya. Apalagi pembangunan sirkuit ini baru dikebut dalam dua tahun terakhir. Intinya, tuan rumah harus betul-betul siap memperhatikan hal sekecil dan sedetail mungkin, termasuk faktor cuaca yang belakangan sering turun hujan dan bisa mengancam keselamatan pembalap.

Selain harus sukses dari sisi penyelenggaraan, event bertaraf internasional ini eloknya juga dapat memberi manfaat ekonomi serta hiburan bagi warga setempat. Harga tiket termurah yang dipatok sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta, rasanya masih terlalu mahal bagi warga Lombok serta NTB pada umumnya. Pihak penyelenggara mungkin dapat mempertimbangkan hal itu agar lebih banyak lagi warga yang bisa menyaksikan event bersejarah ini sehingga mereka ikut bangga dengan daerahnya selaku tuan rumah.

Selain itu, pihak penyelenggara juga mesti memperhatikan hal-hal di luar lintasan, misalnya para pengelola homestay maupun penginapan kecil di sekitar Lombok agar mereka juga dapat merasakan manfaat dari pesta bertaraf internasional ini. Sebab, hingga pekan lalu, mereka mengaku belum mendapat kepastian jadi tidaknya gelaran ini dilaksanakan sehingga belum melakukan persiapan secara maksimal. Pemda maupun panitia jangan cuma sibuk mengurus hotel-hotel berbintang dan melupakan para pelaku UMKM semacam itu. Jangan sampai masyarakat Lombok cuma kebagian deru bising dan polusi dari gelaran ini, tanpa merasakan manfaat ekonomi. Apalagi, Presiden berharap agar keberadaan Sirkuit Mandalika dapat menciptakan pertumbuhan titik-titik baru ekonomi di NTB.

BACA JUGA
BERITA LAINNYA