14 August 2020, 05:00 WIB

Hentikan Politisasi Resesi


Mediaindonesia.com|Editorial MI

TIDAK sepatutnya ada pihak-pihak yang sengaja menebar ketakutan akan resesi ekonomi. Semua pihak hendaknya bahu-membahu membangun optimisme dan menyiapkan strategi pemulihan yang cepat. Resesi akibat pandemi covid-19 tidak terhindarkan, butuh sikap bijak menghadapinya.

Mestinya semua elemen bangsa fokus bagaimana agar resesi yang mengancam negara ini tidak sampai pada fase krisis ekonomi. Fokus, agar ketika wabah ber akhir, kondisi bisa cepat pulih dan pertumbuhan ekonomi bisa bangkit kembali.

Untuk itulah, masyarakat tidak perlu terprovokasi dengan ha sutan-hasutan bahwa ekonomi Indonesia tidak hanya akan masuk resesi, tapi juga akan terpuruk menuju krisis ekonomi seperti tudingan sejumlah pihak. Politisasi resesi hanya mengacaukan konsentrasi pemulihan ekonomi.

Memang, resesi ekonomi bagi Indonesia su dah di depan mata. Kondisi yang memang tidak terelakkan karena pandemi covid-19. Saat aktivitas sosial dan ekonomi terbatas, maka konsumsi, investasi, serta kinerja ekspor dan impor juga mengalami penurunan, yang membuat geliat ekonomi melambat.

Turunnya konsumsi masyarakat menyebabkan tingkat penjualan anjlok, produksi tidak bergerak. Imbasnya tidak ada kebutuhan investasi baru. Dengan konsumsi dan investasi turun drastis, pertumbuhan ekonomi sudah pasti mengalami kontraksi.

Angka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 yang tercatat minus 5,32% menjadi penanda akan datangnya resesi ekonomi di Tanah Air. Memang, pemerintah masih optimistis triwulan III ekonomi akan tumbuh 0% alias positif. Namun, jika melihat kondisi saat ini, sektor-sektor yang mengalami kontraksi sangat dalam di kuartal II sulit pulih dalam waktu yang cepat.

Apalagi jika melihat data bahwa konsumsi rumah tangga yang menjadi komponen terbesar dalam PDB dengan kontribusi 58% merosot atau mengalami kontraksi sebesar 5,51%. Konsumsi rumah tangga hingga saat ini masih tertekan.

Karena itulah, banyak pihak memprediksi kondisi serupa juga terjadi pada kuartal III dan IV 2020. Jika proyeksi benar terjadi, ekonomi Indonesia bisa dinyatakan resesi pada Oktober.

Yang jelas, meskipun Indonesia nanti dinyatakan resesi, publik tidak perlu panik. Di tengah pandemi,  resesi sudah menjadi kenormalan baru. Hampir semua negara mengalami resesi. Tidak hanya negara kita, sejumlah negara maju justru mendahului masuk resesi.

Total sepuluh negara telah memasuki fase resesi ekonomi, yaitu Amerika Serikat, Jerman, Prancis,Italia, Inggris, Korea Selatan, Singapura, Jepang, Hong Kong, dan Filipina. Kenyataan ini  menegaskan bahwa resesi bisa menghampiri setiap negara. Yang membedakan ialah bagaimana langkah mitigasinya.

Pemerintah Indonesia telah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk meminimalkan dampak resesi. Pemerintah mendorong belanja pe merintah, memberikan stimulus, serta mendukung terealisasinya investasi domestik. Total anggaran stimulus mencapai Rp695,2 triliun, yang mencakup program penanganan medis dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Pekerjaan rumah terbesar terletak pada penyerapan anggarannya. Hingga minggu lalu, data Kementerian Keuangan menunjukkan penyerapan PEN masih di angka Rp151,25 triliun atau 21,8% dari pagu anggaran PEN senilai Rp695,2 triliun.

Tentu semua berharap pemerintah bisa segera mengatasi hambatan ini sehingga memasuki triwulan ketiga bisa menggenjot belanja agar kontraksi ekonomi tidak jauh lebih dalam. Jangan kacaukan konsentrasi pemulihan ekonomi dengan politisasi resesi.

 

BACA JUGA
BERITA LAINNYA