27 June 2020, 05:00 WIB

Selamatkan Milenial dari Narkoba


Mediaindonesia.com|Editorial MI

SEBAGAI salah satu kejahatan luar biasa, peredaran narkoba masih saja merajalela. Daya rusak bagi masa depan bangsa pun semakin mencemaskan, lantaran ia kian agresif menyandera kaum milenial dengan kenikmatan palsu yang mematikan.

Para bandar narkoba memang tidak mengenal masa. Sejak dulu, mereka terus menggelontorkan barang terlarang itu ke pasaran. Demi fulus dalam jumlah tak terbatas, mereka tak peduli akan derita berkepanjangan para korban. Demi keuntungan gila-gilaan, mereka tega menjerumuskan nasib bangsa ke jurang kehancuran.

Itulah yang dialami negeri ini hingga saat ini. Benar bahwa sudah banyak upaya untuk memerangi narkoba, tetapi harus diakui hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Peredaran narkoba tak lantas mereda, tetapi terus menggila.

Yang lebih mengkhawatirkan, para pengedar narkoba kian gencar menyasar kaum milenial. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan jumlah penyalah guna narkoba pada 2017 sebanyak 3,37 juta jiwa dengan rentang usia 10-59 tahun. Angka itu naik menjadi 3,7 juta orang pada 2019, sedangkan pengguna narkoba di kalangan pelajar atau kelompok milenial tak tanggungtanggung mencapai 2,29 juta pada 2018.

Pada konteks itulah kita sepakat, amat sepakat, dengan penegasan Wakil Presiden Ma’ruf Amin bahwa bangsa ini harus meningkatkan kewaspadaan dan keseriusan untuk menghadapi serangan narkoba. Dalam sambutannya pada peringatan Hari Antinarkotika Internasional secara virtual, kemarin, Wapres mengingatkan generasi milenial pada rentang usia 15-35 tahun mesti mendapat perhatian khusus agar tak terpapar virus narkoba.

Generasi milenial akan menjadi tumpuan bagi keberadaan bangsa ini pada tahun-tahun mendatang. Merekalah yang akan menjadi nakhoda atau awak kapal besar bernama Indonesia. Tentu mereka harus sehat fi sik dan mental agar bisa produktif. Tentu mereka harus diselamatkan dari jerat narkoba agar menjadi manusia yang berguna.

Namun, harus kita akui bahwa tidaklah mudah untuk membebaskan anak-anak bangsa, khususnya generasi milenial, dari narkoba. Tantangan itu justru semakin berat selama pandemi korona. Pandemi membuat banyak aktivitas berhenti yang memicu stres warga dan banyak di antara mereka mencari pelampiasan dengan mengonsumsi narkoba.

Di lain sisi, pasokan tetap deras mengalir. Pandemi bahkan membuat para bandar kian gencar menyelundupkan barang-barang laknat itu, utamanya melalui laut. BNN mengungkap 14 jaringan narkotika internasional yang menjadikan Indonesia sebagai pasar yang menggiurkan.

Jelas bahwa narkoba masih menjadi ancaman serius, sangat serius, bagi bangsa. Karena itu, kita pun harus serius, sangat serius, untuk menghadapinya.

Beragam upaya untuk memberantas narkoba tidak hanya harus semakin intensif, tetapi juga mesti lebih masif, dilakukan. Strategi supply reduction untuk menekan peredaran dari awal mutlak digencarkan dengan sepenuh hati.

Begitu juga dengan penegakan hukum. Tak boleh ada lagi kompromi dengan para bandar dan pengedar. Rakyat tidak ingin lagi ada bandar yang dihukum ringan. Rakyat tak ingin lagi mendengar ada pengedar yang masih leluasa menjalankan bisnis haram mereka dari balik penjara. Sudahi kebaikan hati kepada para perusak anak bangsa itu, tempatkan mereka sebagai musuh yang harus diperangi dengan kesungguhan hati.

Upaya yang tak kalah penting ialah konsistensi dalam memberikan edukasi untuk menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat bahwa narkoba musuh bersama. Dengan edukasi tiada henti, masyarakat akan sadar bahwa narkoba sangat berbahaya dan harus dijauhi.

Kita tidak mau punya generasi yang rapuh akibat narkoba. Kita harus menyelamatkan anakanak bangsa, termasuk generasi milenial, dari cengkeraman narkoba supaya negara ini punya masa depan.

 

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA
BERITA LAINNYA