23 January 2020, 05:05 WIB

Menangkal Korona


Mediaindonesia.com|Editorial MI

HOROR baru itu bernama korona tipe baru (2019-novel corona virus/nCoV). Virus pneumonia yang ditemukan pertama kali di Wuhan, Tiongkok, itu sepertinya tak butuh waktu lama untuk mengglobal. Selain ke sejumlah kota dan provinsi lain di Tiongkok, penyebaran virus korona juga dilaporkan sudah menjangkau Taiwan, Korea Selatan, Jepang, dan Thailand.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut virus korona baru itu berasal dari famili yang sama dengan sindrom pernapasan akut berat (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) yang dulu pernah pula menjadi horor di Asia. Artinya, amat mungkin penyebaran korona punya pola dan kecepatan yang sama dengan dua keluarganya itu.

Kita tentu tidak lupa bagaimana cepatnya virus SARS menyebar sejak ditemukan kasus pertama pada 2002. Hanya kurang lebih satu tahun, pada Juni 2003, tercatat sudah 8.069 kasus SARS ditemukan dengan jumlah korban tewas sebanyak 775 orang. Penyebarannya cepat, luas, dan mematikan. Sama seperti SARS, virus korona asal Wuhan juga diduga kuat menular dari manusia ke manusia.

Karena itu, bagi Indonesia, antisipasi cepat mutlak dilakukan, mumpung belum ada laporan korona masuk wilayah Tanah Air. Agar wabah ini tak benar-benar menjadi horor, mesti segera ada kebijakan satu pintu untuk menanganinya. Sepatutnya pemerintah sudah menyiapkan tindakan, rencana aksi, dan gerakan sistematis untuk mencegah virus itu terbawa ke Indonesia.

Betul bahwa Indonesia harus menunggu WHO untuk melakukan tindakan lebih jauh terkait dengan penanganan wabah korona ini. Prosedur menurut regulasi kesehatan internasional memang seperti itu. Begitu WHO memutuskan penyakit tersebut perlu diwaspadai dunia internasional, Indonesia akan mengikuti guide line yang dirilis WHO.

Akan tetapi, menunggu bukan berarti tidak bergerak. Setidaknya apa yang sudah dilakukan pemerintah dengan memperketat pengawasan di 19 pintu masuk negara yang merupakan akses langsung dari Tiongkok patut kita apresiasi. Ini penting karena menurut data Kantor Kesehatan Pelabuhan Soekarno-Hatta, setiap hari sekurang-kurangnya ada 5.000 orang dari Tiongkok masuk ke Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Di hilir, penyiapan 100 rumah sakit rujukan yang sudah siap melayani kasus darurat, seperti ketika kasus SARS, MERS, dan flu burung mewabah, juga mesti kita dukung sembari memastikan hal itu betul-betul dilakukan serius. Artinya, kesiapan itu tidak sekadar diwacanakan, tapi sudah dimulai dengan pelatihan, penjadwalan siaga, dan simulasi apabila kasus ini terjadi.

Pemerintah pusat pun tak boleh dibiarkan sendirian menangkal korona. Pencegahan akan berjalan jauh lebih baik ketika terbangun sinergi antara pusat dan daerah. Karena itu, pencegahan dini hendaknya dilakukan dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

Pelajaran dari penanganan kasus-kasus pandemi sebelumnya tentu sudah memberi pelajaran banyak hal kepada pemerintah. Pertama, melawan virus harus serius meskipun kemungkinan virus itu menyapu udara Indonesia barulah satu potensi. Kedua, jika kita menganggapnya persoalan serius, tentu tak bisa ditangkal dengan cara business as usual.

Penting untuk membangun kesadaran publik agar juga ikut bergerak mengantisipasi penyebaran virus itu melalui perilaku sehat mereka. Proaktif harus dikedepankan, alih-alih reaktif. Persuasif mesti didahulukan agar antisipasi tidak malah membuat masyarakat cemas dan merasa ditakut-takuti. Itu semua harus dilakukan dari sekarang, jangan menunggu korona betul-betul menjadi horor.

BACA JUGA
BERITA LAINNYA