Indonesia Damai



Views : 2852 - 20 August 2019, 05:00 WIB

ADA yang terkikis dari kearifan lokal yang di­­wariskan dari para leluhur bangsa Indonesia. Semangat gotong royong luntur dan semakin tergantikan oleh sifat individualistis. Tenggang rasa dan toleransi yang tumbuh kuat ditopang akar kemajemukan bang­sa kini menipis. Dengan cepat tergeser ­sikap mu­­dah curiga maupun ­mudah mencela.

Sepertinya begitu sulit bagi sebagian kita untuk tidak melontarkan kata hinaan ataupun tudingan tanpa klarifikasi terlebih dahulu. Tidak mengherankan bila konflik demi konflik berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan tiada hentinya bermunculan. Label-label ne­­ga­­tif dan stereotip disematkan untuk menjustifikasi serangan.

Kita merasa sedih saat ada saudara yang me­­lontarkan ucapan dan tindakan rasialis terhadap saudara lainnya yang sebangsa. Lebih memprihatinkan lagi ketika dengan mudahnya pihak-pihak yang menginginkan kekacauan di negeri ini ikut menunggangi. Isu pengusiran mahasiswa asal Papua dari Malang dan Surabaya membesar dan makin liar.

Hasilnya seperti yang terjadi kemarin, sau­­­­­­dara-saudara di Papua dan Papua Barat ter­­­­pancing emosi mereka. Sejumlah insiden ke­­rusuhan terjadi. Lagi-lagi peristiwa itu membuktikan isu SARA telah menjadi basis yang paling mudah dipakai untuk memprovokasi dan mengadu domba.

Beruntung masih tersisa sedikit warisan ke­­arifan luhur yang melekat. Para pemimpin berupaya menenangkan situasi dengan cara-ca­­ra damai. Presiden Joko Widodo menjamin pemerintah akan terus menjaga kehormatan rakyat Tanah Papua.

Imbauan demi imbauan disampaikan berbagai kalangan agar semua pihak menahan diri dan menyelesaikan persoalan dengan ke­­pala dingin.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Para­­wan­sa, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Wali Kota Malang Sutiaji dengan kerendah­an hati meminta maaf kepada saudara-saudara asal Papua dan Papua Barat yang merasa ditekan tindakan rasialis.

Sikap yang benar-benar terpuji. Patut pula warga mengikuti dengan lebih mawas diri dan mengedepankan tenggang rasa. Saudara-saudara di Tanah Papua pun merespons dengan meredakan emosi diri.

Tentu lebih jauh kita berharap mereka bisa mengesampingkan ego dan mengutamakan suasana damai dan persatuan bangsa hingga bersedia memaafkan.
Memaafkan itu sangat sulit, bahkan mungkin mustahil, bagi orang-orang yang tidak mampu mengendalikan amarah dan selalu diliputi kebencian. Akan tetapi, kepala yang dingin dan hati yang terpaut pada perdamaian akan mudah memberi maaf.

Sikap tenggang rasa seyogianya perlu kemba­li dipupuk. Semangat toleransi dan saling menghormati hak sesama warga negara merupakan bagian dari kualitas sumber daya manusia yang unggul. Rasa persaudaraan yang tinggi tanpa memandang latar belakang SARA akan melandasi kolaborasi harmonis mewujudkan Indonesia maju.

Bukan sekadar menjadi negara maju, melainkan juga dengan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat. Itu semua harus dimulai dengan menyingkirkan diskriminasi dan sikap penuh prasangka, maupun kebiasaan memandang rendah segolongan saudara yang lainnya. Yang lebih penting lagi menjaga perdamaian sebab pembangunan hanya bisa berjalan dalam suasana damai.

Ingat, kita semua bersaudara. Papua yang damai ialah untuk Indonesia damai.

BACA JUGA
BERITA LAINNYA