Spirit Ramadan Sejukkan Pemilu



Views : 5948 - 04 May 2019, 05:00 WIB

PROSES rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 masih terus berjalan. Durasi proses berbeda-beda antardaerah.

Beberapa kabupaten/kota sudah menuntaskan, tetapi di banyak daerah, rekapitulasi masih berkutat di tingkat kecamatan. Jumlah TPS, banyaknya pemilih, kejelian saksi, hingga kondisi kesehatan petugas sangat menentukan kecepatan penuntasan rekapitulasi.

Sungguh kita perlu angkat topi untuk semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pemilu kali ini. Warga negara yang memiliki hak pilih berbondong-bondong ke TPS karena begitu antusias memberikan suara mereka.

Petugas pemilu, para saksi, dan relawan sekuat tenaga memastikan pemungutan suara pada pemilu serentak perdana tersebut berjalan lancar dan jujur. Setelah hari pencoblosan, mereka masih bekerja maraton untuk menyelesaikan rekapitulasi penghitungan suara.

Dedikasi mereka begitu tingginya hingga sebagian sampai mengorbankan nyawa. Lebih dari 400 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia akibat kecelakaan ataupun sakit yang dipicu kelelahan. Pun tidak kurang dari 3.500 petugas jatuh sakit.

Karena kerja mereka, proses pemilu hingga sejauh ini berlangsung damai dan relatif lancar. Sayangnya, suasana yang kondusif dikotori upaya-upaya memprovokasi massa agar menentang proses yang tengah berjalan. Narasi-narasi yang menuding telah terjadi kecurangan masif dalam pemilu tiada hentinya diembuskan.  

Kecurangan memang bisa saja terjadi. Namun, setiap tuduhan kecurangan harus dibuktikan di hadapan hukum. Fakta menunjukkan ditemukan kasus-kasus salah input data dalam Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Akan tetapi, kesalahan itu tidak lantas bisa dipastikan sebagai kecurangan.

Kumpulkan bukti-bukti yang diperlukan, lalu ajukan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) yang berwenang menangani sengketa pemilu. Begitu semestinya langkah warga negara yang beradab. Begitu pula yang seharusnya dilakukan masyarakat yang berakal sehat dan taat hukum ketika merespons dugaan kecurangan.

Provokasi yang dapat berujung pada kerusuhan massa jelas tidak kita inginkan. Para tokoh, baik di pemerintahan, politik, maupun agama, diharapkan menjadi yang terdepan mengingatkan, memberi kesejukan, dan mengajak untuk merekatkan persaudaraan pascapemilu. Bukan malah tampil sebagai provokator yang memperlebar perpecahan.

Berkali-kali penyelenggara pemilu, baik Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), meminta semua pihak menahan diri. Semuanya diimbau menunggu ketetapan KPU tentang hasil pemilu pada 22 Mei mendatang. Bagi umat Islam, ajakan menahan diri selaras dengan spirit bulan suci Ramadan yang sudah di depan mata.

Nilai-nilai ketaatan beribadah puasa bermuara pada kesabaran. Bersabar menantikan keputusan hasil pemilu, salah satu bentuknya. Kemudian, menahan diri agar tidak ikut menyebarluaskan provokasi yang memancing tindakan inkonstitusional, contoh lainnya.

Semua perlu menyadari pihak-pihak yang dianggap lawan hanya karena berbeda pilihan dalam pemilu ialah juga saudara sebangsa. Kita semua bersaudara sehingga ketika presiden sudah terpilih sesuai koridor demokrasi dan konstitusi, ia merupakan presiden bagi seluruh bangsa Indonesia.

BACA JUGA
BERITA LAINNYA