Optimistis Menatap Industri 4.0



Views : 6609 - 24 April 2019, 05:00 WIB

PEMILU 2019 yang baru saja digelar sesungguhnya punya nilai amat strategis dalam konteks perubahan pendekatan negara terhadap perkembangan industri. Pemimpin bangsa hasil Pemilu 2019 akan langsung dihadapkan pada tantangan revolusi industri yang kini bergerak menuju fase 4.0.

Namun, hari ini kita amat miris melihat pertengkaran di tingkat elite ataupun rakyat akar rumput yang justru mengaburkan makna pemilu. Pemilu dianggap layaknya ajang adu bakat, sekadar proses untuk memilih pemenang berdasarkan suara terbanyak. Yang terus mereka ributkan hanya soal angka, melulu tentang kemenangan dan kekalahan. Bahkan ada yang tak malu melontarkan klaim-klaim kemenangan.

Padahal, hakikat pemilu sejatinya bukan sekadar memilih pemimpin, melainkan proses untuk melakukan perubahan secara holistik terhadap tata kelola negara dan pemerintahan. Pemilu ialah salah satu cara kita berproses untuk menentukan nasib bangsa ini lima tahun ke depan.

Pemimpin yang dihasilkan dari kontestasi pemilu hanyalah instrumen, pelaku untuk mengawal agar perjalanan bangsa selama lima tahun mendatang dapat berjalan dengan baik. Tentu kita berharap pemimpin yang terpilih dari hasil pesta demokrasi itu ialah pemimpin yang visioner, menawarkan optimisme besar, sekaligus menginspirasi.

Tiga hal itu penting karena akan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan globalisasi, khususnya menghadapi industri 4.0 yang suka tidak suka telah mendisrupsi hampir setiap lini kehidupan manusia saat ini. Perubahan industri yang sangat cepat bahkan amat mungkin bakal mengubah seluruh lanskap yang ada, baik lanskap ekonomi, sosial, maupun politik.

Siapa pun tak bisa menolak hadirnya revolusi industri. Yang harus kita lakukan ialah secepatnya menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Mengapa? Karena di balik tantangan-tantangan yang disuguhkan, sesungguhnya ada peluang besar dari revolusi industri keempat bagi mereka yang mampu beradaptasi dengan cepat dan tepat.  

Inti sari dari industri 4.0 ialah efisiensi dan konektivitas. Dua poin itulah yang menjadi roh dari era digitalisasi dan otomatisasi yang menjadi ciri utama dari revolusi industri keempat. Dua hal itu pula yang menuntut setiap orang, setiap negara untuk terus berinovasi. Tanpa inovasi, cepat atau lambat kita akan mati ditelan disrupsi.

Saat ini, pemerintah sudah memiliki peta jalan berjudul Making Indonesia 4.0. Di dalamnya ditetapkan sejumlah strategi agar bangsa ini siap dan mampu menghadapi dampak dari revolusi industri keempat. Yang mesti didorong ke depan ialah implementasi agar konsep tak sekadar menjadi catatan dekil di atas kertas, tapi betul-betul dapat menciptakan kreasi sekaligus menaikkan level inovasi.

Salah satu fokusnya, seperti acap diungkapkan Presiden Joko Widodo, ialah mendongkrak kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar tetap dapat menjadi bagian penting dari industri meskipun robot-robot sudah mulai mengambil alih sebagian tugas manusia. Jokowi yakin, selain kesiapan infrastruktur, SDM merupakan kunci Indonesia menghadapi revolusi industri keempat. Karena itu, Jokowi tak ragu memasukkan penguatan SDM dalam kerangka dasar APBN 2020.

Kita percaya rezim hasil pemenang Pemilu 2019 akan melanjutkan upaya tersebut. Agar semakin laju, pemerintah mendatang mesti pula menambah anggaran riset sehingga bisa memancing munculnya berbagai inovasi baru. Industri kreatif dan digital pun harus lebih diberi ruang untuk bertumbuh dalam ekosistem yang mendukung.

Dengan respons dan upaya seperti itu, kita bolehlah optimistis revolusi industri keempat akan membawa berkah bagi Indonesia. Dengan semua kesiapan yang sudah dan akan dilakukan, bukan hal yang berlebihan bila industri 4.0 bakal mengantar Indonesia masuk 10 besar ekonomi terbesar di dunia pada 2030 mendatang.

Itu bukan mimpi. Itu optimisme yang semestinya menjadi pegangan pemimpin autentik yang dihasilkan dari kontestasi demokrasi Pemilu 2019.

 

BACA JUGA
BERITA LAINNYA