Menimbang Debat Ketenagakerjaan



Views : 3701 - 19 March 2019, 05:00 WIB

DEBAT ketiga antara calon wakil presiden nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin dan calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno pada Minggu (17/3) menampilkan pertarungan gagasan di bidang pembangunan sumber daya manusia.

Penampilan Ma'ruf mampu mendominasi percakapan warganet di media sosial. Ia tampil di luar dugaan. Bukan saja mampu mengimbangi penyampaian rencana kebijakan Sandi, Ma'ruf beberapa kali menekan dengan kritik terhadap gagasan Sandi.

Ma'ruf menguasai garis besar substansi kebijakan yang telah dilakukan pasangannya, yakni Joko Widodo yang juga petahana presiden. Kemudian, dengan fasih, Ma’ruf menyampaikan gagasan baru kebijakan yang dirancang untuk pemerintahan selanjutnya bila mereka terpilih.

Sandi tampil sesuai ekspektasi dengan penguasaan materi rencana kebijakan pembangunan sumber daya manusia. Ia menggunakan pengalamannya yang pendek sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk menguatkan argumentasi rencana program yang dilontarkannya.

Dalam tataran konsep kebijakan di bidang ketenagakerjaan, baik Ma'ruf maupun Sandi, secara eksplisit sepakat masih ada masalah ketidakbersambungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia usaha serta industri. Hal itu terlihat dari tingkat pengangguran yang didominasi lulusan sekolah menengah kejuruan atau SMK. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), per Agustus 2018, angka pengangguran terbuka tercatat 5,34% atau sekitar 7 juta orang. Lulusan SMK menunjukkan persentase tertinggi, yakni 11,24%, disusul lulusan SMA 7,95%, diploma 6,02%, dan universitas 5,89%.

Sandi menyebut tingginya pengangguran usia muda, antara 15 dan 24 tahun, sebanyak 61%. Data BPS mencatat kelompok usia tersebut memang mendominasi, tetapi angkanya sekitar 43%. Solusi andalan Sandi untuk mengatasi pengangguran terampil dan usia muda ialah rumah siap kerja dan program OK OCE sebagai inkubator wirausaha. 

Rumah siap kerja akan didirikan hingga perdesaan dan angkatan kerja muda bisa mendapatkan pendidikan keterampilan secara gratis. Di jalur wirausaha, Sandi mengklaim penerapan program OK OCE telah berhasil memangkas 20 ribu pengangguran pada 2018 di DKI Jakarta. Di tahun yang sama, sepanjang Februari hingga Agustus, BPS mencatat kenaikan angka pengangguran sekitar 25 ribu orang di Ibu Kota.

Rival Sandi, Ma'ruf, mengingatkan telah ada balai latihan kerja yang menyediakan kursus gratis. Selanjutnya, pendidikan kejuruan di SMK ataupun politeknik akan terus diperbaiki dan diperkuat. Sasaran lapangan pekerjaan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri dengan penguasaan teknologi digital. 

Pun, menurut Ma'ruf, pemerintah siap dengan program kartu prakerja yang memberikan tunjangan bagi pencari kerja dalam jangka waktu 6-12 bulan. Ma'ruf juga menekankan keberhasilan memangkas angka pengangguran hingga ke tingkat terendah dalam 20 tahun belakangan.

Sejauh ini, berdasarkan pantauan lembaga yang melakukan monitoring dan analisis percakapan di media sosial, Politica Wave, paparan Ma’ruf terkait dengan lapangan kerja dipandang memiliki konsep yang jelas dan memberikan gagasan berdasarkan data. Sebaliknya, hal negatif yang dibicarakan warganet terkait dengan Sandi ialah OK OCE dianggap gagal, tetapi masih dipromosikan.

Sengitnya pertarungan gagasan bidang ketenagakerjaan secara tidak langsung menunjukkan betapa besarnya daya tarik isu itu terhadap pemilih. Tiap calon pasti berupaya keras meyakinkan bahwa program mereka yang paling jitu menyelesaikan persoalan. Semanis apa pun tawaran para calon, pemegang hak suara memiliki kemerdekaan menimbang-nimbang pilihan. Keputusan itu ada di tangan pemilih.
 

BACA JUGA
BERITA LAINNYA