Alumni Turun Gelanggang



Views : 5420 - 12 February 2019, 05:05 WIB

ALUMNI, baik yang berasal dari sekolah menengah atas (SMA) maupun perguruan tinggi, dipandang sebagai kalangan terdidik, rasional, dan memiliki pengaruh dalam membentuk kesadaran kelas menengah.

Kelas menengah selama ini juga dipersepsikan sebagai kelompok yang tidak terlalu peduli terhadap perkembangan politik. Mereka lebih memilih untuk mengambil jarak, bersikap netral, independen, dan enggan terlibat aktivitas dukung-mendukung dalam kompetisi politik.

Karena itu, merupakan fenomena mengejutkan ketika belakangan ini muncul gerakan saat kelompok-kelompok alumni, baik alumni SMA maupun perguruan tinggi, turun ke gelanggang ikut meramaikan berbagai acara dukung-mendukung dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019.

Deklarasi dukungan alumni SMA se-Jakarta kepada pasangan 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (10/2), merupakan salah satunya. Sehari sebelumnya pasangan itu mendapat dukungan dari tiga alumni sekaligus, yaitu Universitas Trisakti, Institut Kesenian Jakarta, dan Jaringan Alumni Mesir Indonesia.

Dukungan yang fenomenal didapatkan Jokowi-Amin dari sejumlah alumnus lintas angkatan SMA Pangudi Luhur. Dukungan yang dideklarasikan pada 6 Februari itu disebut fenomenal karena sekolah itu merupakan tempat calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, menempuh pendidikan menengah.

Dengan berbagai gaya dan cara, serta semangat tinggi, kelompok-kelompok alumni tersebut mengenakan busana warna-warni dan seragam bertuliskan angka 01 sekaligus menyatakan dukungan kepada pasangan 01 Jokowi-Amin. Di sisi lain, pasangan nomor urut 02, Prabowo-Sandiada Uno, juga mendapatkan dukungan kelompok alumni meski jumlahnya masih terbatas.

Gejala baru dari turunnya kelompok alumni dalam aktivitas dukung-mendukung terhadap capres dan cawapres pada musim kampenye Pilpres 2019 itu pun mengundang berbagai tanggapan. Ada sebagian kalangan yang melihat bahwa keterlibatan kalangan alumni dalam aktivitas dukung-mendukung tersebut sebagai kegiatan seremonial belaka.

Namun, ada pula yang menilai bahwa fenomena dukung-mendukung dari kalangan alumni itu tidak boleh dipandang remeh. Gejala itu, oleh sebagian kalangan dilihat sebagai pertanda kebangkitan politik kelas terdidik yang diwakili kelompok alumni SMA ataupun perguruan tinggi untuk lebih sadar politik.

Deklarasi dukungan alumni itu kian mengalir setelah digelar debat perdana pada 17 Januari. Pengetahuan platform politik capres-cawapres merupakan faktor utama mengubah mereka dari suporter menjadi voter.

Pada debat perdana itu para calon menyampaikan janji-janji politik mereka. Akan tetapi, bagi pemilih rasional yang berasal dari kampus, mereka pasti menimbang juga antara janji yang diucapkan dan kemampuan riil dari sang kandidat untuk memenuhi janji dalam kurun masa jabatan lima tahun mendatang.

Janji yang kelewat muluk, kelewat banyak untuk dipenuhi dalam waktu 5 tahun, justru bisa membuat pemilih rasional pesimistis kepada si pembuat janji. Apalagi bila kaitan logika di antara janji-janji itu bertabrakan. Belum lagi jika fakta yang disodorkan tidak akurat.

Apa pun argumen dan latar belakangnya, kita menyambut baik keterlibatan aktif kelompok-kelompok alumni tersebut. Kita bahkan ikut mendorong agar kalangan alumni terlibat lebih aktif lagi turun ke gelanggang. Yang kita harapkan ialah mereka sebagai kelompok intelektual dan rasional berperan untuk ikut memperbaiki keadaan.

Sebagai kalangan terdidik, mereka piawai dan kritis dalam mengenali narasi politik yang dikemas dengan kebohongan, fitnah, dan mengandung hate speech. Mereka pun penuh kapasitas dan kompetensi dalam mencerna narasi politik yang mencerdaskan kehidupan. Dukungan kaum terdidik itu diharapkan mampu meminimalkan massa mengambang dan apatisme politik.

BACA JUGA
BERITA LAINNYA