Sri Mulih


Penulis: Ono Sarwono - 07 August 2016, 07:30 WIB

NEGARA Amarta dilanda paceklik. Harga sembako melangit, tidak terkendali. Rakyat terengah-engah memenuhi kebutuhan pokok mereka sehari-hari. Lelakon ini membuat Prabu Puntadewa prihatin. Sebagai pemimpin tertinggi Amarta, ia mesti menemukan solusi untuk mengatasi persoalan sulit tersebut.

Amarta ibarat lagi kena kutukan dewa. Bagaimana tidak? Negara agraris yang berpredikat gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku (makmur karena tanahnya subur dan murah pangan-sandang), tapi kenyataan rakyatnya banyak yang kelaparan.

Sebelumnya, Amarta pernah berswasembada pangan. Bahkan, karena panennya pada suatu waktu melimpah, Amarta sampai mendermakan pangan. Memberikan bantuan kepada negara lain yang defisit pangan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, secara perlahan, kemampuan negara memenuhi pangan bagi rakyatnya sendiri berkurang dan terus turun hingga pada akhirnya terpaksa mengimpor.

Dalam menyikapi masalah itu, Puntadewa sudah berulang kali menggelar rapat paripurna Kabinet Pandawa. Sayangnya, setiap keputusan yang diambil majal mengatasi persoalan mendasar tersebut.

Pada titik itulah Puntadewa lalu seperti diingatkan bisikan gaib bahwa Amarta memiliki penasihat ulung. Tergagap Puntadewa karenanya, sampai lupa pepundennya. Ia lalu mengutus duta merawuhkan (mendatangkan) Prabu Baladewa dan Prabu Kresna. Keduanya dimintai pendapat demi pulihnya Amarta sebagai negara kaya pangan.

Ditinggal Dewi Pangan

Tepat pada waktu yang ditentukan, Baladewa dan Kresna hadir dalam rapat paripurna Kabinet Pandawa dengan agenda tunggal soal pangan. Sidang diawali dengan laporan Nakula dan Sadewa yang bertanggung jawab atas persoalan pangan. Dalam presentasi itu juga dipaparkan berbagai program dan paket kebijakan yang terkait dengan pangan.

Menurut kalkulasi Nakula, berdasarkan kebijakan-kebijakan yang diambil mestinya ketersediaan pangan cukup. Dari sidaknya ke sentra-sentra produksi pun, seolah tiada jeda panen. Akan tetapi, anehnya di masyarakat, pangan langka dan mahal. Inilah yang membuat Pandawa bingung.

Kresna berpendapat Pandawa harus introspeksi. Amarta alias Indraprastha adalah negara luas. Barangkali ada program-program tidak jalan di daerah tertentu, misalnya soal pembibitan, irigasi, pupuk, dan hama. Mungkin juga ada hal-hal teknis yang terabaikan, mulai proses produksi hingga distribusi ke pasar.

Baladewa, yang memiliki pengalaman dalam bidang pertanian dan peternakan di masa mudanya, mengaku tidak mengerti kenapa Amarta menghadapi persoalan pangan. Menurut hitung-hitungannya, tentu masalah itu tidak akan pernah terjadi. Ia yakin pasti ada sesuatu dan itu hanya bisa dipecahkan titah yang memiliki kemampuan linuwih.

Baladewa sepakat dengan pendapat adiknya, Kresna. Namun, menurutnya, saran dan nasihatnya Kresna masih samar. Karena itu, Baladewa mengusulkan untuk mendatangkan pamong Pandawa, Semar Badrayana. Instingnya bahwa Semar mampu menunjukkan jalan terang.
Segera Puntadewa mengutus Patih Tambak Ganggeng menjemput Semar di Dusun Karangkadempel. Tidak lama kemudian, datanglah semar menghadap di sitihinggil. Sejenak setelah napasnya teratur, Semar lalu menghaturkan sembah dan nyadong (menanti) sabda sang raja.

Puntadewa menyambut dan bangga dengan kehadiran Semar memenuhi panggilan. Setelah basa-basi, bertanya tentang kondisi keluarga dan keadaan dusun, Puntadewa kemudian menyampaikan maksud serta keperluan mendatangkannya ke istana.

Paham masalah yang dihadapi raja, Semar mengungkapkan bahwa Amarta bermasalah dengan pangan karena ditinggalkan Dewi Sri (Dewi Pangan). Itu terjadi karena para pemimpin dan elite tidak menghiraukannya. Untuk memulihkannya, tidak ada cara lain kecuali memboyong Dewi Sri kembali ke Amarta. Puntadewa menerima usulan Semar. Lalu ia memerintahkan Arjuna mencari Dewi Sri.
Saat itu pula, seusai rapat paripurna ditutup, Arjuna pamit untuk melaksanakan tugas. Kresna sebagai botoh Pandawa merasa ikut bertanggung jawab atas pulihnya Amarta. Maka, ia pun mendampingi Arjuna dalam misi mencari Dewi Sri.

Pada suatu ketika, Arjuna bersua dengan anak muda yang mengaku bernama Prabakusuma. Perjaka tampan tersebut ingin bertemu dengan bapaknya yang bernama Arjuna karena sejak lahir dari rahim Dewi Supraba di kahyangan hingga dewasa belum pernah mengenal ayahnya. Arjuna memperkenalkan diri. Namun, ia menegaskan dirinya akan mengakui Prabakusama sebagai anaknya bila mampu memboyong Dewi Sri.

Dalam memenuhi persyaratan itu, Prabakusama lalu melangkahkan kaki atas petunjuk getaran nurani. Pada suatu ketika, di tengah hutan, ia bertemu Dewi Sri. Sang dewi berlari menghindari kejaran raksasa Nila Daksono yang bernafsu memperistrinya. Dewi Sri minta perlindungan. Maka, terjadilah peperangan, dan Prabakusuma-lah yang menang.

Setelah hengkang dari Amarta, Dewi Sri ternyata cumondok (tinggal) di Negara Pudak Sitegal yang dipimpin raksasa bernama Nila Dadi Kawaca. Ia punya anak bernama Nila Daksono. Sesungguhnya Dewi Sri merasa nyaman di negara tersebut karena diopeni (dirawat).

Singkat cerita Dewi Sri dapat diboyong kembali ke Amarta. Sejak saat itu Indraprastha menemukan kembali jati dirinya sebagai negara yang subur dan makmur. Semua kebutuhan pangan kembali berlimpah. Rakyat hidup ayem tenteram nan sejahtera.

Gudangnya pangan

Benang merah cerita Sri Mulih (Sri Pulang) itu ialah Amarta dilanda bencana kekurangan pangan akibat ditinggal Dewi Sri (Dewi Pangan). Kenapa Dewi Sri pergi? Karena ia merasa sudah tidak nyaman berada di Amarta. Kenapa tidak betah di Amarta? Karena dirinya merasa diabaikan, tidak diurus lagi.

Itu simbolisasi bahwa pemerintah Amarta telah lalai mengelola bidang pertanian. Kemampuannya berswasembada pangan pada waktu lalu telah meninabobokan kewaspadaan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan di masa depan yang terus bertambah. Program yang mengantarkan kesuksesan berswasembada pangan tidak dipelihara lagi sehingga semuanya telantar dan pada gilirannya terjadi krisis pangan.

Para elite sibuk dengan persoalan politik untuk menghadapi perang Bharatayuda. Mereka lupa dengan urusan pangan yang sesungguhnya sangat fital menopang kejayaan bangsa dan negera. Karenanya, ketika ketersediaan pangan cupet, lalu dengan gampang mengeluarkan kebijakan jalan pintas, impor. Padahal, Amarta semestinya bukan hanya berswasembada pangan, melainkan menjadi gudangnya pangan dunia.

Hikmahnya, negeri ini perlu belajar dari ironi Negara Amarta bahwa berswasembada pangan bukan sesuatu yang datang dari langit. Bidang pertanian mesti dikelola dengan serius, mulai hulu hingga hilir. Dengan demikian, negeri ini akan jauh dari persoalan pangan alias menjadi rumah abadi Dewi Sri. (M-4)

BERITA TERKAIT