Kotak Musik Pengubah Kehidupan


Penulis: Dzulfikri Putra Malawi - 24 April 2016, 06:23 WIB
MI/Barry Fathahillah
MI/Barry Fathahillah

SUDAH satu dekade Suryadi, 49, bergelut dengan papan tripleks dan resin untuk membuat kotak-kotak penyimpanan instrumen musik. Awalnya pria kelahiran Surabaya yang akrab disapa Surya ini hanya seorang sopir pribadi. Sebuah peristiwa membawa dirinya berani untuk mengubah taraf hidupnya menjadi seorang ayah yang berpenghasilan puluhan juta rupiah tiap bulan. Saat itu dirinya yang kerap menjemput anak majikan sekolah selalu menunggu di sebuah studio di bilangan Kemang, Jakarta, yang letaknya tak jauh dari sekolahan. Suatu ketika, pemain saksofon, Embong Rahardjo, sedang mengeluh akibat kotak penyimpanan saksofonnya tidak sesuai dengan pesanannya. Saat itu juga Surya memberanikan diri untuk membenarkan kotak milik Embong. Didukung kemauannya yang keras, akhirnya ia berhasil membuat kotak tersebut disenangi sang empunya.

Autodidak
Seiring dengan waktu, Surya memperdalam pengetahuannya. Tak ada referensi dari literatur, ia hanya bermodal pergaulan untuk mengenal resin sampai akhirnya produknya saat ini mengkombinasikan serat fiber dan resin. Hasilnya ialah bobot yang lebih ringan, tapi tetap bisa menahan beban hingga 100 kg. Alhasil, band-band besar yang sering bepergian dengan pesawat memilih Surya Caseman boks buatan Surya lantaran lebih ringan dan tetap kuat. “Produk saya awalnya dipesan band Samsons, setelah itu banyak band besar lainnya, seperti Ungu, Noah, Wali, Alexa, Kotak, Nidji, Musikimia, dan masih banyak lagi pesan sama saya,” kisah Surya kepada Media Indonesia saat berkunjung ke workshop-nya di bi­­langan Kebagusan, Jakarta, Jumat lalu.

Hemat biaya bagasi
Ringannya kotak penyimpanan karya Surya membuat band mampu menghemat pengeluaran untuk biaya kelebihan bagasi hingga 50%. Harga kotaknya pun lebih murah jika dibandingkan dengan kemasan berbahan alumunium hingga setengahnya.
Untuk kotak penyimpan gitar, Surya mematok harga mulai Rp1,2 juta. Untuk mempercantik, aksesori dari alumunium juga kerap digunakan dengan tambahan Rp600 ribu per buah. Kini Surya mempekerjakan lima orang. “Sebulan sekarang omzet bisa Rp50 juta. Waktu jadi sopir pendapatan enggak seberapa, cuma biaya hidup sehari-hari untuk bayar utang dan kon­trak­an. Untung istri saya kerja. Musik tidak akan pernah mati pasarnya. Saya ingin mengubah hidup keluarga. Sekolah hanya kelas 5 SD. Ini karena kemauan keras saya untuk berubah, dan semua orang harusnya bisa,” ungkapnya.

Regenerasi
Kini ayah empat anak ini tengah mempersiapkan anak-anaknya untuk melanjutkan usaha ini. Anak sulungnya, Irvandi Adam Ramadhan, 25, sudah mulai aktif menerima pesanan klien. Irvandi pula yang menjalankan promo lewat media sosial sekaligus membantu sang ayah bersama karya­wannya membuat kotak. Begitu pula anak keduanya, Gilang Satriyo Anggoro, 16, mulai ikut membantu di tempat workshop. “Saya bisa mengerjakan dua kotak sehari. Waktu SMP udah mulai belanjain barang, SMA mulai bikin barang. Produk kotak bapak saya kuat karena resinnya bukan cetakan. Kami langsung bikin sendiri sekaligus pewarnaan. Setelah kering, diamplas lagi,” jelas Irvan. Dirinya berupaya untuk mengeksplorasi model-model kotak yang dibuat. Namun, tak jarang terkendala dengan kepadatan order yang datang silih berganti. Saat ini, Surya Caseman, juga mulai memproduksi beragam kotak untuk keperluan alat kedokteran, make up, kamera, lampu syuting, dan penyimpanan motor dengan kisaran harga Rp850 ribu-Rp7,5 juta. Untuk memuaskan para pelanggan, Surya memberlakukan layanan after sales yang kemudian digarap Irvan. Selain itu, ia juga mengharuskan pelanggannya untuk fitting dengan alat musik dan kotak. “Ini bentuk tanggung jawab kepada klien agar alat musiknya benar-benar aman,” tutupnya. (M-1)

BERITA TERKAIT