Khotbah Provokatif di Rumah Ibadah Meresahkan


Penulis: Media Indonesia - 15 April 2019, 09:45 WIB
Dok. Media Indonesia
 Dok. Media Indonesia
Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) Se-DKI Jakarta, JawaBarat, dan Banten. 

SEJUMLAH santri dalam Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten mengkritisi praktik khotbah di dalam rumah ibadah yang terjadi belakangan ini. Ketua Penasihat FMPP, Asnawi Ridwan, menyebutkan, pihaknya menganggap sejumlah khotbah dalam rumah ibadah yang kerap berisi materi provokasi, fitnah, dan hoaks sudah dalam taraf meresahkan.

“Karena itu, FMPP berkumpul membahas soal-soal teraktual, permasalahan-permasalahan yang kekinian. Apalagi khotbah di rumah ibadah yang provokatif sudah menyalahi fungsi,” katanya di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Jakarta, akhir pekan lalu.

Selain menyalahi fungsi, Asnawi khawatir khotbah yang provokatif, menjurus fitnah, dan hoaks bisa membawa masyarakat ke dalam perpecahan. “Memang saat ini hal tersebut betul-betul terjadi. Banyak masjid yang seyogianya digunakan untuk untuk menebarkan Islam yang rahmatan lil alamin, tapi ternyata sekarang beralih fungsi, justru menjadi pusat dan menjadi perpecahan masyarakat karena adanya khatib ataupun ceramah yang isinya provokasi, fitnah, dan hoaks”, terang Asnawi.

Karena itu, Asnawi menilai khotbah bermuatan provokatif, fitnah, dan hoaks dalam rumah ibadah harus segera dihentikan sedini mungkin. Apabila dibiarkan, ia khawatir praktik ini dapat membudaya yang pada akhirnya bisa merusak kehidupan demokrasi ke depan.

“Untuk itulah, sejumlah santri berkumpul dalam acara ini untuk mengambil sikap tegas meng­hen­tikannya,” tegasnya.

Ia memperkirakan masalah khotbah yang penuh provokasi itu akan terus berlanjut sampai setelah Pemilu 2019 ini.

“Kita duga akan berlanjut ke pilkada dan seterusnya. Maka dari itu, hal ini harus secepatnya dihentikan,” pungkas Asnawi.

Forum musyawarah pondok pesantren se-DKI, Jawa Barat, dan Banten merupakan kegiatan rutin setiap enam bulan sekali yang dihadiri delegasi dari 80 pesantren dari tiga provinsi besar tersebut. (*/P-4)

BERITA TERKAIT