Menguatkan Fondasi Peradaban


Penulis: Muazzah Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie - 15 April 2019, 01:15 WIB
MI/Tiyok
 MI/Tiyok
Ilustrasi

BERITA perundungan yang dialami A, seorang siswi SMP di Pontianak, Kalimatan Barat, ialah peristiwa menyedihkan dan patut disesali. Bagaimana tidak, usia yang harusnya diisi dengan segudang prestasi, dinodai perilaku tak bermoral yang mengakibatkan jatuhnya korban. Perundungan yang semakin sering terjadi dengan beragam motifnya ialah aib besar dalam dunia pendidikan.

Kasus perundungan bukannya baru kali ini terjadi di kalangan para siswa. Namun, kasus perundungan yang menimpa siswi tersebut mampu menyedot perhatian khalayak dan mengusik nurani. Seorang anak perempuan dilecehkan dan dianiaya 12 siswi lainnya hanya karena alasan yang sepele. Akibat yang diterima korban sangatlah berat. Tak sekedar luka fisik, tetapi juga meninggalkan trauma psikis.

Yang lebih disayangkan ialah tiadanya rasa takut dan bersalah pada para pelaku seusai melakukan aksi asusilanya tersebut. Seolah hal yang mereka lakukan ialah perbuatan biasa dan lazim di mata masyarakat.

Akar masalah
Hampir semua kasus perundungan dilakukan mereka yang juga punya riwayat kekerasan sebelumnya. Dalam teori pembelajaran sosial, Bandura (psikolog) menyatakan, setiap anak hanya akan melakukan suatu hal dari 2 cara; pertama, pembelajaran instrumental. Artinya, ia belajar melakukan sesuatu bermula dari coba-coba, jika tidak ada efek buruk bagi dirinya, ia akan terus melakukannya.

Pelaku perundungan akan mencoba sekali aksinya, jika tak ada hukuman yang ia dapat, dia pun akan melakukannya lagi, hingga terus-menerus. Kedua, pembelajaran observasi. Artinya, anak belajar dari apa yang sering ia lihat. Anak-anak yang sering terdedah kekerasan, secara otomatis akan melakukan kekerasan juga, baik verbal maupun fisik.

Anak-anak bermasalah, biasanya berasal dari keluarga disharmoni (Setiyawati: 2015). Dengan kata lain, pendidikan keluarga menjadi fondasi utama setiap anak. Bahkan, dalam ungkapan peribahasa buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya, menyiratkan bahwa perilaku anak akan mirip dengan perilaku orangtuanya. Dari keluargalah setiap anak pertama kali belajar. Melihat apa yang dilakukan orangtua dan pengasuhnya serta mendengar apa yang dituturkan orang-orang terdekatnya. Oleh karena itu, setiap anak ialah peniru, ia akan merekam semua tindak tanduk anggota keluarganya yang akan menjadi citra dirinya kelak.

Jika setiap kita tahu bahwa karakter ialah bagian terpenting yang harus ditanamkan kepada anak, orangtua wajib menjadi pendidik utama untuk anaknya. Banyak orangtua yang memercayakan 100% pendidikan anaknya pada lembaga-lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, sehingga memilih untuk tak terlibat lagi dalam mendidik anaknya. Orangtua hanya memenuhi kebutuhan lahiriah; membelikan barang yang dibutuhkan anak, memilihkan sekolah paling bergengsi, tetapi lupa meluapkan kasih sayangnya dalam bentuk yang benar.

Banyak juga orangtua yang tak punya kedekatan emosional dengan anaknya sehingga tak pernah tahu kegiatan apa yang kerap anaknya lakukan, dengan siapa ia bergaul, termasuk masalah apa yang tengah dihadapi anaknya.

Kondisi seperti itulah yang menjadi peluang besar terhadap terpaparnya anak pada hal-hal negatif. Ruang kosong dalam diri anak yang tak diisi orangtuanya akan dengan mudah diisi pergaulan yang salah, narkoba, pornografi, dan perbuatan-perbuatan asusila lainnya. Anak-anak pelaku perundungan kerap melakukan kekerasan demi mencari pengakuan diri dari orang-orang di sekitarnya dan pelampiasan akan rasa sakit yang pernah ia alami sebelumnya (Yuli dan Welhendri: 2017).

Memutus mata rantai  
Menurut KPAI, kasus perundungan terus terjadi dan semakin meningkat jumlahnya. Perundungan menempati urutan keempat dalam kasus kekerasan pada anak. Bahkan, kasus perundungan di Indonesia menempati peringkat teratas di ASEAN. Jika kasus perundungan tidak ditangani serius, dapat menimbulkan efek yang sangat fatal, dari perilaku pelaku yang kian tak masuk akal hingga efek yang ditimbulkan pada si korban. Di beberapa kasus yang pernah ditangani KPAI, pelaku bisa melakukan kekerasan hingga menghilangkan nyawa korban atau korban yang memutuskan untuk bunuh diri karena merasa tak sanggup menerima perlakuan si pelaku perundungan.

Perundungan hanya akan tetap terjadi jika orang-orang kehilangan rasa peduli, membiarkan pelaku melakukan tindakannya secara leluasa. Lebih banyak pihak perlu dilibatkan untuk melawan perundungan. Hal itu yang dilakukan Finlandia, dengan program antiperundungannya, Kiva. Ini merupakan program antiperundungan berbasis sekolah yang secara aktif melibatkan siswa, guru, dan orangtua. Prinsip yang diterapkan melalui Kiva ialah penanaman karakter dan norma agar anak tak melakukan atau membiarkan terjadinya intimidasi hingga kekerasan pada orang lain.

Program Kiva telah diteliti selama 20 tahun di berbagai sekolah di Finlandia dan terbukti sangat efektif menghentikan dan mencegah terjadinya perundungan. Pelibatan orangtua akan sangat membantu sekolah dalam penanaman karakter siswa karena sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa pendidikan dalam keluarga menjadi kunci utama dalam penanaman karakter setiap anak.

Jika mau belajar dari apa yang telah dilakukan Finlandia, bukan tidak mungkin kita akan semakin jarang mendengar kasus perundungan hingga akhirnya tak lagi ada korban-korban berjatuhan seperti A tersebut. Sekolah harus menjadi tempat yang benar-benar nyaman bagi setiap anak dan bermitra baik dengan para orangtua siswa untuk dapat memangkas habis akar penyebab terjadinya perundungan di tingkat pelajar.

Setiap rumah harus dikembalikan pula fungsinya sebagai tempat pendidikan utama bagi setiap anak, yakni orangtua berperan sebagai gurunya. Mau tak mau orangtua harus total dalam mendampingi tumbuh kembang anak, mencukupi kebutuhan lahir maupun batinnya. Dengan demikian, anak-anak tidak akan mudah dirusak hal-hal negatif dari lingkungan luar. Setiap anak akan memiliki benteng yang sangat kuat jika jiwa mereka penuh dengan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya.

Dengan penguatan peran keluarga, diharapkan setiap generasi akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan dapat menjadi para pengukir peradaban yang mulia. Harry Santoso (2017) menegaskan bahwa setiap rumah ialah miniatur peradaban yang di dalamnya, setiap individu dapat mempersiapkan dirinya untuk peran yang lebih luas di masyarakat. Bangsa ini akan mampu mengukir namanya di peradaban manusia, jika setiap keluarga mampu menyiapkan setiap individu untuk menemukan peran peradabannya masing-masing.

 

BERITA TERKAIT