Kasus Audrey dan Krisis Pendidikan Karakter Anak


Penulis: Darmayanti Lubis, Wakil Ketua DPD - 13 April 2019, 09:15 WIB
THINK STOCK/Helder Almeida
 THINK STOCK/Helder Almeida
Ilustrasi

Hari-hari ini perhatian publik Tanah Air tertuju ke Kalimantan Barat. Menyusul ramainya beredar tagar yang menuntut keadilan terhadap Audrey di lini masa dan pemberitaan media cetak maupun elektronik, muncul pertanyaan besar di benak sebagian pihak. Ada apa dengan pendidikan karakter terhadap anak-anak kita?

Kejadian nahas yang menimpa Audrey ialah gambar besar dari persoalan pembangunan karakter putra-putri kita, yang harusnya menjadi tugas semua orangtua beserta sekolah sebagai institusi formal pendidikan di Tanah Air. Bagaimana tidak? Sekelompok remaja usia SMA berani melakukan tindakan perundungan yang sedemikian rupa terhadap seorang siswi SMP.

Hal itu diperparah dengan minimnya rasa bersalah dan jera dari pelaku setelah melakukan tindakan yang tidak seharusnya kepada korban. Meskipun belakangan muncul permintaan maaf dari pelaku yang disampaikan secara terbuka, hal itu tetap dirasa terlambat. Mengingat sejumlah perilaku yang mereka tunjukkan melalui akun media sosial yang menunjukkan ketiadaan rasa penyesalan.

Jika ingin lebih jauh mengurai gambar besar persoalan yang terjadi, publik bisa bertanya sejauh mana dampak pendidikan yang diterima pelaku terhadap proses pembangunan intelektual dan mental bisa terwujud secara seimbang. Sebelum pertanyaan tersebut diarahkan kepada orang lain, pihak pertama yang harus bertanggung jawab atas situasi yang telah terjadi ialah keluarga.

Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga ialah tempat belajar anak pertama-tama sebelum seorang anak terjun ke lingkungan sekitar. Untuk itu, peran orangtua merupakan kunci utama keberhasilan pendidikan terhadap anak di dalam keluarga. Kemampuan orangtua menciptakan kondisi yang kondusif terhadap iklim tumbuh kembang anak sangat diharapkan sebagai pionir pendidikan pertama.

Baca juga: Kasus Audrey dan Revisi UU Sistem Peradilan Pidana Anak

Pertanyaannya, sudahkah keluarga mampu menjawab kebutuhan anak akan pendidikan tersebut? Perkembangan dunia yang semakin pesat ditopang kemunculan teknologi digital yang merambah hampir setiap aspek kehidupan, boleh dikatakan, sebagai salah satu penyebab mudahnya anak mengambil pembelajaran lain selain dari orangtua.

Hal itu diperparah dengan kontrol orangtua yang minim terhadap tumbuh kembang anak sehingga kebutuhan utama anak untuk menopang tumbuh kembang yang seimbang berupa pendidikan orangtua sering kali tergantikan. Dengan kehadiran instrumen fasilitas dan sebagainya yang secara instan seolah menjawab kebutuhan anak dalam jangka pendek.

Tanpa sebenarnya disadari orangtua, proses tumbuh kembang anak yang ideal membutuhkan perhatian khusus, treatment khusus, serta pola khusus yang pada dasarnya memenuhi kebutuhan anak terhadap perhatian dan kasih sayang orangtua. Untuk itu, jauh sebelum anak diterjunkan ke lingkungan sosialnya, anak terlebih dahulu telah dibekali secara penuh oleh orangtua.

Pendidikan di sekolah

Pendidikan di sekolah ialah kunci selanjutnya setelah pendidikan yang diberikan orangtua kepada anak. Sistem pendidikan nasional yang ada saat ini sebenarnya telah menyiapkan desain yang lengkap terhadap keseimbangan tumbuh kembang anak selama berada di lingkungan sekolah.

Aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik ialah sejumlah hal yang kerap dijadikan indikator keberhasilan pelaksanaan pendidikan di sekolah. Idealnya, jika implementasi ketiga indikator tersebut berjalan secara bersamaan, target utama pendidikan di sekolah niscaya bisa terwujud.

Nyatanya, hingga saat ini, masih sering ditemukan kasus-kasus siswa yang bermasalah secara karakter. Ironisnya, kasus tersebut terjadi di lingkungan sekolah, bahkan tidak jarang langsung melibatkan siswa dengan gurunya di sekolah. Masih hangat diingatan ketika seorang siswa melecehkan seorang guru honorer di kelasnya yang terjadi di salah satu daerah di Tanah Air.

Pertanyaannya ialah apa penyebabnya? Mari kita kembali kepada pengalaman pribadi ketika masih berada di bangku sekolah. Sering kali indikator keberhasilan pendidikan di sekolah hanya menitikberatkan pada tercapainya pembangunan intelektual siswa melalui indikator-indikator penilaian secara kuantitatif. Nilai 100 yang dicapai saat ujian formal di kelas menjadi satu-satunya indikator keberhasilan pendidikan anak.

Tanpa disadari, guru dan orangtua mengamini hal tersebut. Padahal, jika menyadari sejak awal, hal itu tidaklah cukup. Keberhasilan pembangunan intelektual anak di sekolah juga harus dibarengi dengan keberhasilan pembangunan karakter dan kesiapan anak untuk diterjunkan ke masyarakat setelah usia belajar selesai.

Instrumen dari indikator ini jelas. Aspek afektif dan psikomotorik harusnya juga diperhatikan sehingga tercipta keseimbangan ketercapaian tujuan pendidikan anak selama di sekolah. Tentu saja hal ini membutuhkan kerja keras dan peran serta semua pihak. Tidak hanya guru disekolah, tapi juga perhatian orangtua untuk menciptakan dukungan yang kondusif terhadap terwujudnya aspek ini sangatlah penting. Setelah itu, baru kita berharap lebih kepada lingkungan tempat anak bersosialisasi.

BERITA TERKAIT