Berawal Dari Selokan Sampah


Penulis: Abdillah Marzuqi - 14 February 2019, 16:10 WIB
Antara/ Yulius Satria Wijaya
Antara/ Yulius Satria Wijaya

SUASANA permukiman itu sepintas mirip negeri dongeng karena kolam ikan yang memanjang di sepanjang depan deretan rumah. Kolam yang bersih dari sampah, begitu juga dengan halaman rumah serta jalanannya, menghasilkan suasana yang menentramkan meski sederhana.
Demikianlah suasana yang langsung menyapa Media Indonesia, ketika tiba di Kampung Naringgul Ciasin, Desa Bendungan, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/2). Suasana asri nan bersih itu pula yang membuat permukiman padat itu kini terkenal. Walau rumah berderet padat dan hanya sebagian jalanan yang memiliki lebar 2 meter, terlihat jika warga di sana memiliki kesadaran lingkungan yang baik.
Bukan hanya itu kelestarian lingkungan juga berdampingan dengan nilai ekonomi. Wujudnya, ada pada pembudidayaan ikan di kolam-kolam itu.
Namun kondisi lingkungan itu nyatanya belum lama terwujud. Mereka yang pernah datang ke Desa Bendungan pada 2016, mungkin punya ingatan suasana yang sangat berkebalikan.
Selokan dengan kedalaman setengah meter hanya menyisakan 5-10cm untuk lintasan air. Sisanya diisi dengan endapan tanah dan sampah plastik. Warga sekitar awalnya memang kurang perduli dengan sampah besar yang menumpuk di sekitar lingkungan mereka tinggal.
"Selokan kita dulunya luar biasa sampahnya. Tahun 2016, kami membersihkan selokan, hasilnya 750kg sampah kami angkat," kenang Ketua Baraya Ecovillage Irfah Satiri merujuk pada selokan yang kini menjadi kolam ikan jernih. Baraya merupakan kepanjangan Bendungan Asri Ramah Berbudaya.
Kelompok ini dibentuk oleh beberapa warga seiring dengan adanya Anugerah Desa Berbudaya Lingkungan (Ecovillage Awards) yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Jawa Barat.  
Namun, aksi bersih-bersih itu tidak meninggalkan bekas lama. Hanya beberapa hari kemudian, selokan itu sudah berhias sampah lagi.
Sadar jika warga tidak akan tergerak dengan aksi bersih-bersih semata, Irfah dan kelompoknya mencari cara lain. "Mulai dari situ kita berpikiran. Kenapa kita tidak coba dengan menanam ikan," ujarnya. Pemeliharaan ikan akan membuat warga melihat nilai ekonomis dari lingkungan. Dengan begitu, mereka akan tergerak ikut menjaga lingkungan.

Pembelajaran Sosial
Selain itu, pemeliharaan ikan yang terdiri dari jenis berbeda, menjadi cara pembelajaran sosial. "Supaya pembelajaran juga, anak-anak tahu ikan lele seperti apa? Jadi dicampur. Dia (ikan lele) hidup dengan ikan mas tidak menjadi apa-apa. Karena dari mulai kecil mereka sudah bareng," jelas Irfah soal konsep edukasi tentang hidup rukun dari ikan.
Dari situ Baraya Ecovillage mencari model kolam pemeliharaan ikan yang bisa diterapkan. Untuk awalnya, mereka hanya menggunakan selokan sepanjang 30 meter untuk model karamba terbuka yang dilengkapi dengan pembatas sekat besi. Sebanyak 2,5 kuintal bibit ikan ditebar di situ.  
Masyarakat yang tadinya hanya menjadi penonton pun beramai-ramai ikut memanfaatkan selokan. Perlahan, luasan selokan yang dimanfaatkan untuk kolam pun bertambah.
Masyarakat dibebaskan untuk menanam ikan. Syaratnya, mereka harus turut menjaga lingkungan dan membersihkan sampah. Kini kolam itu telah mencapai panjang 300 meter dengan 40 buah sekat.
Tiap bagian kolam ikan memiliki panjang 3 m. Dalam tiap bagian itu dibutuhkan modal Rp.1 juta yang digunakan untuk pembelian benih ikan yang mencapai sekitar 50kg dan sekat (Rp350 ribu).
Namun kondisi bendungan yang menjadi pintu masuk air ke selokan itu memang tidak layaknya seperti fungsinya. Banyak sampah yang menyangkut di pintu air. Setiap hari warga Baraya Ecovillage mengangkat 30kg sampah dari bendungan sungai yang menjadi hulu dari selokan. Kebanyakan berupa sampah plastik dan popok.
Baraya Ecovillage tidak hanya bergerak pada pembersihan selokan.
Aidi Zuhri yang juga tergabung di kelompok itu menjalankan program pengolahan sampah rumah tangga. Ia mendorong lingkungan hijau dengan pemilahan sampah dalam tiga jenis, yakni organik, anorganik laku, dan anorganik tidak laku.
Ia memberi contoh pengolahan sampah organik menjadi kompos dan sampah plastik menjadi ecobrick serta kerajinan tangan. Sedangkan sampah yang tidak dapat diolah dibuang ke TPA.
"Jadi dipilah menjadi 3. Residunya dibelah (dibagi) menjadi 2, yang laku masuk bank sampah, yang gak laku ke TPS," terang Aidi Zuhri yang juga menjadi Ketua RT3/10 Desa Bendungan. (M-1)

 

BERITA TERKAIT